PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PRILAKU INDIVIDU

Pengertian Lingkungan

Lingkungan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis, termasuk didalamnya adalah belajar. lingkungan juga terkadang sering disebut patokan utama pembentukan prilaku.

Semuanya dikaitkan dengan lingkungan dan manusia pun selalu tergantung  pada lingkungan nya. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman, karena dengan lingkungan itu individu mulai mengalami dan mengecap alam sekitarnya. Manusia tidak bisa melepaskan diri secara mutlak dari pengaruh lingkungan itu, karena lingkungan itu senantiasa tersedia di sekitarnya.
Sejauh mana pengaruh lingkungan itu bagi diri individu, dapat kita ikuti pada uraia

Pengertian Prilaku

Prilaku adalah bentuk tanggapan, gerakan atau reaksi yang dihasilkan dari dalam diri individu tersebut atau hasil dari meniru lingkungan setempat. prilaku juga dapat diartikan sebagai perbuatan. dan  prilaku yg dapat dilihat adalah prilaku terbuka, prilaku yang dapat kita amati secara langsung dari apa yang individu lakukan. kadang prilaku bisa membuat image tertentu pada setiap orang yang ada dan prilaku juga dapat menggambarkan bagaimana orang itu?

Adapun bagaimna terjadinya proses prilaku. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni

1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui setimulus (objek) terlebih dahulu

2)    Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus

3)    Evaluation (menimbang – nimbang baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya).Hal ini brarti sikap responden sudah lebih baik lagi
4)    Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru

5)    Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus

Contoh Kasus:

kebetulan contohnya ini adalah saudara saya sendiri lebih tepat ponakan saya. tante saya memiliki 2orang anak. putri dan putra. kelas 6sd dan yang putra kelas 3sd. awal saya melihat adanya perubahan itu ketika tante saya pindah kesebuah perumahan komplek disitu ponakan saya baru berusia 5 sampai 3 th dimana usia segitu masi terbilang masa nya anak2 untuk bermain dan mengenal dunia luar. tapi tidak untuk mereka, karna keadaan rumah yang memang tidak mendukung mereka untuk berexplor lebih diluar sana. mungkin karna faktor kedua orangtua mereka yang pekerja setiap hari terkecuali minggu dan sabtu. mereka hanya tinggal bertiga dengan pembantu saja, alhasil ruang lingkup mereka untuk lebih mengenal dunia luar dan hal baru makin sedikit karna mereka pun jarang sekali untuk bermain dengan teman sebaya nya disana tidak terallu banyak anak anak yang bermain dan keluar rumah kalau pun ada itu hanya sore hari saja dengan waktu yang terbatas. ya maklumlah nama nya juga penghuni komplek rata rata mereka individual kalaupun kenal ya memang sebatas kenal dan tidak lebih. sebenarya kedua ponakan saya ingin sekali bermain diluar apalagi bila waktu sore datang tapi sayang kadang mereka hanya melihat dari jendela atau sebatas pagar dalam rumah saja.

kadang mereka keluar juga tapi tidak pernah sering bisa dibilang jarang. saya mengerti prasaan mereka pasti adanya kecemburuan sosial antara mereka dan anak lain. alhasil mereka hanya main berdua saja, sifat sifat itu mulai muncul dan mereka pun lebih tertutup dengan kehadiran orang baru, malu tampil didepan umum atau orang banyak, hidup kadang tidak bergairah, dan suka sekali mencari perhatian orangtua mereka ketika dirumah( sedikit rewel ). samapai suatu ketika tante memutuskan untuk membangun rumah sendiri, tidak jauh dari tempat tingalnya yang sebelum. rumah itu masuk kedaerah pemukiman warga yang cukup ramai karna disitu masi ada tanah kosong yang ditanami pohon2 besar, secara udara lebih bagus tempat tinggal yang sekrang. walaupun ramai tapi tidak brisik dan tetap nyaman untuk di huni. seiring dengan pertambahan usia ponakanku perbedaan yang jelas sangat terlihat di ke2 ponakan ku.1 per 1 mereka mempunyai teman. dan lama klamaan teman mereka bertambah. setiap jam sore mereka bersiap2 untuk maen dihalaman rumah atau diluar rumah senang rasa nya melihat ponakan2 ku bisa tertawa lepas, semua rasa lelah mereka selama beraktivitas di sekolah seakan sudah terbayar dengan mereka mempunyai banyak teman dan dapat saling berbagi dengan apa yang mereka punya walaupun memang sedikit kampung tetapi mereka semua pintar pintar dan ga kalah dengan anak yang tinggal di komplek. pola asuh tante ku pun sedikit berubah dari yang dahulu menjadi lebih baik untuk yang sekarang.

Berdasarkan contoh Kasus diatas ada beberapa Teori yang Berpendapat

Teori-teori Perilaku

Semua ahli psikologi yang mendukung pandangan perilaku berpendapat, bahwa mereka yang meneliti belajar hendaknya mendasarkan kesimpulan-kesimpulan mereka atas observasi-observasi tentang perilaku eksternal dan terbuka dari organisma-organisma. Tetapi mereka berbeda dalam dua hal, yaitu dalam bagaimana mereka meneliti belajar, dan dalam bentuk-bentuk belajar yang mereka analisis.

Studi secara ilmiah tentang belajar baru dimulai pada akhir abad ke-19. Dengan menggunakan teknik-teknik dari sains (physical sciences), para ahli mulai melakukan eksperimen-eksperimen untuk memahami bagaiman manusia dan hewan belajar

Teori Belajar Sosial

Teori belajar sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional. Teori ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1969). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberikan lebih banyak penekanan pada efek-efek dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proaea-proses mental internal.

Dalam pandangan belajar sosial “manusia itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipukul oleh stimulus-stimulus lingkungan. Tetapi, fungsi psikologi diterangkan sebagai interaksi yang kontinu dan timbale balik dari determinan-determinan pribadi dan determinan-determinan lingkungan”. (Bandura, 1977, hal 11-12)

Teori belajar sosial menekankan, bahwa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang, tidak random; lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya. Suatu perspektif belajar sosial menganalisis hubungan kontinu antara variable-variabel lingkungan, ciri-ciri pribadi, dan perilaku terbuka dan tertutup seseorang

Kesimpulan: Dari contoh kasus diatas dapat disimpulkan bahwa ada Pengaruh lingkungan  terhadap pembentukan prilaku, bedasarkan Contoh nya pengaruh ini masuk kedalam yang bertujuan Positif. membentuk prilaku yang awalnya kaku menjadi lebih Aktiv untuk beradaptasi dengan lingkungan. tetapi kita tidak boleh juga menyalahkan peran  lingkungan  Sosial yang apabila membentuk Prilaku yang Negatif. karna bagaimana pun yang dapat mengetahui diri kita, mau seperti apa kita, apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan dan sapa kita, itu adalah hanya diri kita seorang.  karna Motivator terhebat adalah diri kita sendiri. Percayalah..

By : Dessy Rabiyah Paradhita

Tugas : Psikologi Lingkungan

Sumber Refrensi : PSIKOLOGI UMUM 1 (diktat)

www. infodiknas.com

www. infoskripsi.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: