Archive for March, 2010

Contoh Kasus Kisah Seorang Perempuan Autistik dengan Keberfungsian Tinggi

Temple Grandin adalah seorang perempuan autistik. Ia juga memiliki gelar Doktor dalam ilmu hewan, menjalankan bisnisnya sendiri yang bergerak dalam perancangan mesin untuk digunakan pada hewan ternak, dan menjadi stafpengajár di Colorado State University. Dua buku otobiografi (Grandin, 1986, 1995) dan sebuah profil oleh neurolog Oliver Sacks (1995) menampilkan potret yang menyentuh dan gamblang tentang membingungkannya autisme.

Kurang memahami kompleksitas dan kehalusan hubungan sosial manusia, kurang mampu berempati dengan orang lain, Grandin merangkum hubungannya dengan dunia nonautistik dengan kata-kata, “Hampir sepanjang waktu saya merasa seperti seorang antropolog di planet Mars” (Sacks, 1995, hIm. 259). Karena kadar keberfungsian intelektualnya yang tinggi, diagnosis sindroma Asperger dapat diterapkan. Meskipun demikian, terdapat kontroversi mengenai apakah gangguan tersebut merupakan entitas diagnosis tersendiri atau dipandang sebagai bentuk autisme yang lebih ringan.

Grandin mengisahkan perilaku impulsif dan kemarahan liar yang tiba-tiba semasa kanak-kanaknya, serta fokus perhatian yang berlebihan, “sebuah selektivitas yang sangat intens sehingga dapat menciptakan dunianya sendiri, suatu tempat yang tenang dan teratur di tengah kekacauan dan kegaduhan” (Sacks, 1995, him 254). Ia menggambarkan “sensasi meningkat, kadang hingga ke tingkat yang tidak tertahankan [dan] ia menyebut telinganya, di usia 2 atau 3 tahun, sebagai mikrofon yang tidak berdaya, mentransmisikan apa pun, tanpa menghargai relevansinya, dengan volume penuh dan tidak tertahankan” (Sacks, 1995, hlm. 254).

Didiagnosis menderita autisme ketika berusia 3 tahun, Grandin sama sekali tidak berbicara, dan para dokter memprediksi bahwa dirawat di rumah sakitjiwa akan menjadi takdirnya. Dengan bantuan sebuah sekolah perawat terapeutik dan terapi bicara serta dukungan keluarganya, ia belajar berbicara di usia 6 tahun dan mulai lebih banyak berhubungan dengan orang lain. Namun, tetap saja sebagai seorang remaja yang mengamati anak-anak lain berinteraksi, Grandin “kadang menduga-duga apakah mereka semua memiliki kemampuan telepati” (Sacks, 1995, hlm. 272), baginya kemampuan anak-anak normal untuk saling memahami kebutuhan dan keinginan mereka, untuk berempati, dan untuk berkomunikasi merupakan hal yang sangat misterius.
Ketika mengunjunginya suatu hari di universitas tempatnya mengajar, Sacks melakukan beberapa observasi yang menunjukkan ciri autistik orang yang luar biasa tersebut.
Ia mengajak saya duduk [di kantornya] dengan sedikit penerimaan resmi, tidak ada perkenalan, tidak ada keramahtamahan sosial, tidak ada percakapan ringan nlengenai perjalanan saya atau apa yang saya sukai tentang Colorado. Ia langsung berbicara tentang pekerjaannya, berbicara tentang hetertarikannya sejak dini terhadap psikologi dan perilaku hewan, bagaimana mere ha berhubungan dengan pengamatan din dan suatu rasa tentang lzebutuhannya sendiri sebagai seorang autistik, dan bagainiana hal mi menyatu dengan bagman yang melakukan visualisasi dan rekayasa [yang sangat berkembang] dalam pikirannya dan mengarahkannya pada bidang khusus yang telah diciptakannya: rancangan peternakan, area untuk memberi makan, kandang, rumah-rumah potong- berbagai macam sistem untuk manajemen hewan.
Ia berbicara dengan baik dan jelas, namun dengan dorongan dan kepastian yang tidak dapat dihentikan. Sebuah kalimat, sebuah paragraf, bila sudah diucaphan, hat-us diselesaikan; tidak ada yang inipltsit, nlenggantung di udara. (Sacks, 1995, hlm. 256-257).
Setelah melakukan perjalanan seharian, melewatkan waktu makan siang, merasa lapar dan haus, Sacks berharap dengan sia-sia bahwa Grandin akan memahami kelelahan dan kebutuhannya dan menawarkan minuman atau mengajaknya ke suatu tempat untuk makan, namun setelah satu jam, menyadari bahwa hal itu tidak akan terjadi, ia meminta secangkir kopi.
Tidak ada kata-kata “Maaf, seharusnya saya menawarkan kepada Anda sejak tadi,” tidak ada basa-basi, tidak ada hubungan sosial. Ia justru segera mengantar saya he tempat teko kopi yang selalu dipanaskan di kantor sekretaris di lantai atas. Ia memperhenalkan saya hepada para sehretans dengan cara yang agak kasar membuat saya berpikir, sekali lagi, tentang seseorang yang telah mempelajari, secara tidak sempurna, “bagaimana berperilaku” dalani situasi semacam itu tanpa inetniliki persepsi pribadi yang cukup dalam tentang perasaan orang lain-nuansa dan hehalusan sosialyangterkandung di dalamnya. (Sacks, 1995, him. 257)
Dalam bukunya Grandin mengungkapkan bahwa banyak orang autistik sangat menggemari Star Trek, terutama Spock dan Data. Spock berasal dan ras Vuikan, memiliki karakteristik pendekatan yang murni intelektual dan iogis yang menghindaii setiap pertimbangan sisi emosionai dalam kehidupan. Sementara itu, data adaiah android, sebuah komputer yang sangat canggih berbentuk tubuh manusia dan, seperti halnya Spock, kurang memiliki pengalaman afektif. (Salah satu tema dramatis kedua karakter tersebut adalah, tentu saja, ketertarikan mereka terhadap pengaiaman emosi manusia, yang digambarkan dengan kepedihan tertentu yang diaiami Data. mi juga merupakan tema dalam hidup Grandin). Seperti ditulis Grandin diusianya yang ke-47:
Sepanjang hidup saya menjadi pengamat, dan saya selalu merasa seperti orang yang mengamati dari luar. Saya tidak dapat berpartisipasi dalam interaksi sosial kehidupan SMU.
Bahkan hingga hari ini, hubungan sosial adalah suatu hal yang benar-benar tidak saya pahami. Saya tetap melajang karena hidup melajang membantu saya menghindani berbagai situasi rumit yang terlalu sulit untuk saya. hadapi. Para laki-laki yang in gin berhencan sering kali tidak memahami bagaimana berhubungan dengan seorang perempuan. Mereka (dan saya) mengingathan pada Data, android dalam Star Trek. Dalarn salah satu episode, upaya Data untuk berkencan menjadi suatu hekacauan. Ketika ia berusaha menjadi romantis (dengan melakukan perubahan dalam satu subrutin program homputernya), ia memuji teman kencannya dengan menggunakan istilah ilmiah. Bahkan orang-orang dewasa dengan autisme yang memiliki hemampuan tinggi mengalami masalah semacam itu. (1995, him. 132-133)

Beberapa kelemahan orang-orang dengan autisme membuat mereka iuar biasa jujur dan dapat dipercaya. “Berbohong,” tuiis Grandin, “sangat mencemaskan karena memeriukan interpretasi cepat atas tanda-tanda sosiai yang tidak teriihat jelas (yang tidak mampu saya lakukan) untuk mengetahui apakah orang tersebut benar-benarberhasil kita bohongi” (Grandin, 1995, hlm. 135).

Grandin memiiiki karier profesionai yang mengesankan. Dia memanfaatkan kemampuan visuaIisasinya yang iuar biasa dan empatinya pada hewan-hewan ternak untuk merancang berbagai alat seperti terowongan sapi ke rumah pemotongan yang menggiring mereka dengan rute melingkar, menjaga mereka agar tidak menyadari bahwa mereka akan segera dipotong hingga saatnya tiba. lajuga merancang dan menciptakan “niesin pendekap,” sebuah alat yang memberikan pelukan nyaman tanpa memerlukan kontak dengan manusia. Alat itu memiiiki “dua bagian samping dan kayu yang berat dan menyudut, yang masing-masing berukuran kira-kira 121 cm x 91 cm, yang dengan manis dilapisi bantaian tebal dan lembut. Kedua sisi tersebut disatukan dengan rnenggunakan engsel ke sebuah papan bagian bawah yang panjang dan sempit sehingga membentuk V, sebuah ceiah seukuran tubuh. Terdapat sebuah kotak kendali yang rumit di salah satu ujungnya, dengan beberapa tabung yang berat yang tersambut ke alat lain, daiam sebuah lemani. Sebuah kompresor industrial ‘menghasiikan tekanan kuat, namun nyaman pada tubuh, dan bahu ke lutut’” (Sacks, 1995, him262-263). Penjelasannya tentang alasan di baiik penciptaan mesin tersebut adaiah semasa kecil ia rindu untuk dipeluk, namun juga sangat takut terhadap kontak fisik dengan orang lain. Ketika seorang bibi kesayangan yang bertubuh besar memeiuknya, ia merasa ketakutan sekaligus nyaman. Teror menyatu dengan kenikmatan.
Ia mulai sering melamun-ia baru berusia 5 tahun ketika itu-tentang mesin ajaib yang dapat mendekapnya dengan kuat namun lembut, seperti pelukan, dan dengan cara yang sepenuhnya dipenintah dan dikendalihan olehnya. Bertahun-tahun kemudian, ketika remaja, ia melihat foto sebuah jeram penahan yang dirancang untuk menahan atau men gurung anak sapi dan menyadari bahwa itulah yang diinginkannya: sedikit modifihasi agar cocok digunakan oleh manusia, dan alat itu dapat menjadi mesin ajaibnya. (Sacks, 1995, hlm. 263)
Setelah melihatnya mendemonstrasikan mesin tersebu dan mencobanya sendiri, Sacks menuliskan pengamatannya:
Tidak hanya kenikmatan atau relaksasi yang diperoleh Temple dan alat tersebut namun, ia menjaga, suatu perasczan kepada orang lain. Ketika ia be rba ring di dalam alat tersebut, ia mengatahan, pikirannya sering kali melayang he ibunya, bibi kesayangannya, guru-gurunya. Ia merasakan perasaan sayangnya hepada mereka, dan rasa sayang mere ha kepadanya. Ia merasa alat tersebut membukakan pintu he dunia emosional yang tertutup dan memunghinhannya, bahkan hampir mengajarinya, untuk berempati hepada orang lain. (Sacks, 1995, hlm. 264)
Sacks sangat mengagumi keberhasilan profesional Grandin dan kehidupannya yang menarik serta produktif yang diciptakannya bagi dirmnya sendini, namun bila menyangkut interaksi manusia jeiaslah ia tidak memahammnya. “Saya terperangah dengan perbedaan yang sangat besar, kesenjangan, antara pernahaman Temple yang cepat dan intuitif terhadap mood hewan serta tanda-tanda emosi mereka dan kesulitan iuar biasa yang dialammnya dalam memahami manusia, kode dan sinyal yang mereka tunjukkan, cara mereka herperilaku” (hlm. 373).
Berbagai penjelasan seperti yang disampaikan Grandin dan Sacks dapat memberikan pencerahan mengenai berbagai cara beradaptasi dengan berbagai perilaku aneh, dengan memanfaatkan bakat yang terkadang aneh yang dimiliki seseorang dan menghindari berbagai kelemahan yang menjadi penghambat bagi seseorang. “Autisme, meskipun bersifat patologis sebagat suatu sindrom, juga harus dilihat sebagai bentuk keberadaan yang utuh, suatu bentuk atau identitas yang sangat berbeda, suatu bentuk yang harus disadari (dan dibanggakan) oleh bentuk itu sendiri,” tulis Sacks (him. 277). “Dalam sebuah kuiiah belum lama berselang, Temple mengakhiri kuliahnya dengan mengatakan, “Jika saya dapat menjentikkan Jan dan menjadi tidak autistik, saya tidak akan meiakukannya-karena kemudian saya tidak lagi menjadi din saya. Autisme adalah bagian dari diri saya”

Daftar Pustaka
Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Advertisements

Evaluasi Teori Psikologis & Teori Behavioral mengenai Gangguan Autistik

Teori Behavioral. Seperti halnya para teoris berorientasi psikoanalisis, beberapa teoris perilaku mengemukakan teori bahwa pengalaman belajar tertentu di masa kanak-kanak menyebabkan autisme. Dalam sebuah artikel yang berpengaruh, Ferster (1961) berpendapat bahwa tidak adanya perhatian dan orang tua, terutama ibu, mencegah terbentuknya berbagai asosiasi yang menjadikan manusia sebagai penguat sosial. Karena orang tua sendiri tidak pernah menjadi penguat sosial, mereka tidak dapat mengentng dalikan perilaku si anak, dan mengakibatkan terjadinya gangguan autistik. Sekali lagi, tidak terdapat dukungan bagi teori ini.

Evaluasi terhadap Teori Psikologis mengenai Gangguan Autistik. Baik Bettelheim maupun Ferster, serta yang lain, menyatakan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam etiologi autisme. Oleh karena itu, banyak peneliti yang meneliti karakteristik para orang tua tersebut. Agar suatu teori psikogenik mengenai gangguan di masa kanakkanak benar-benar meyakmnkan, harus dapat ditunjukkan adanya sesuatu yang sangat luar biasa dan destruktif terkait perlakuan para orang tua terhadap anak-anak mereka. Hal itu tidak terjadi. Tidak ada bukti yang mendukung teori psikoanalisis atau behavioral.

Beberapa artikel kiinis terdahulu berpendapat bahwa para orang tua anak-anak autistik tidak memiliki kehangatan, membuatjarak, tidak sensitif, pasif, dan apatetik. Namun, penelitian sistematik gagal mengonfirmasi kesan-kesan klinis tersebut. Contohnya, Cox dan para koleganya (1975) membandingkan para orang tua anakanak autistik dengan para orang tua anak-anak yang mengalami afasia reseptif (suatu gangguan pemahaman bicara). Tidak terdapat perbedaan antara kedua kelompok tersebut dalam hal kehangatan, ekspresivitas emosional, responsivitas, atau sosiabilitas. Studi tersebut dan berbagai studi lain (a.l., Cantwell, Baker, & Rutter, 1978) tidak menghasilkan bukti bahwa terdapat hal yang luar biasa pada para orang tua anakanak autistik. Kenyataannya, para orang tua tersebut membesarkan anak-anak mereka yang lain yang normal dan sehat.

Daftar Pustaka
Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Komunikasi si dia..

Kekurangan Komunikasi. Bahkan sebelum mereka menguasai bahasa, anak-anak autistik menunjukkan kelemahan dalam komunikasi. Mengoceh (babbing), istilah yang menggambarkan ucapan bayi sebelum mereka mulai mengucapkan kata-kata sebenarnya, jarang dilakukan para bayi dengan autisme dan menyampaikan lebih sedikit informasi dibanding pada bayi-bayi lain (Ricks, 1972). Pada usia 2 tahun, anak-anak yang berkembang secara normal menggunakan kata-kata untuk menyebut berbagai objek di sekeliling mereka dan membentuk kalimat yang terdiri dan satu dan dua kata untuk mengekspresikan pikiran yang lebih kompleks, seperti “Ibu pergi” atau “Aku minum.” Sekitar 50 persen anak-anak autistik tidak pernah belajar berbicara sama sekali (Paul, 1987). Sementara itu, pada mereka yang belajar berbicara, bicaranya mencakup berbagai keanehan.

Salah satu cirinya adalah ekolalia, di mana si anak mengulangi, biasanya dengan ketepatan luar biasa, perkataan orarig lain yang didengarnya. Seorang guru dapat bertanya pada seorang anak autistik, “Apakah kamu ingin sepotong kue?” Si anak dapat menjawab dengan kalimat “Apakah kamu ingin sepotong kue?” mi merupakan ekolalia langsung. Dalam ekolalia tertunda si anak dapat berada di ruangan dengan televisi menyala dan tampaknya sama sekali tidak tertarik pada acara televisi. Beberapa jam kemudian atau bahkan keesokan harinya; si anak dapat mengulang saw kata atau kalimat dalam program televisi tersebut. Anak-anak autistik yang tidak berbicara yang di kemudian hari dapat berbicara secara fungsional melalui latihan biasanya pertama-tama melewati tahap ekolalia.

Di masa lalu, sebagian besar pendidik dan peneliti yakin bahwa ekolalia tidak memiliki tujuan fungsional. Meskipun demikian, ekolalia dapat merupakan upaya untuk berkomunikasi (Prizant, 1983). Si anak yang ditawari sepotong kue dapat memutuskan setelahnya bahwa ia menginginkan kue tersebut. Si anak akan mendekati guru tersebut dan bertanya, “Apakah kamu ingin sepotong kue?” Meskipun si anak mungkin tidak memahami arti masing-masing kata tersebut, ia telah mempelajari bahwa kata-kata yang diucapkan sebelumnya oleh orang dewasa tersebut berhubungan dengan mendapatkan sepotong kue.

Abnormalitas bahasa lain yang umum terdapat dalam pembicaraan anak-anak autistik adalah pembalikan kata ganti. Anak-anak merujuk dirinya sendiri dengan kata ganti “ia”, “dia”, atau “kamu” atau dengan menyebut nama mereka sendiri. Pembalikan kata ganti berkaitan erat dengan ekolalia. Karena anak-anak autistik sering kali berbicara ekolalik, mereka merujuk din sendiri seperti yang mereka dengar ketika orang lain berbicara tentang mereka dan salah menerapkan kata ganti tersebut. Contohnya:
Orang tua : Kamu sedang apa, Johnny?.
Anak : Ia di sini
Orang tua : Apakah kamu merasa senang?
Anak : Ia tahu itu.
Jika kemampuan bicara terus berkembang lebih normal, pembalikan kata ganti mi dapat diharapkan akan hilang. Meskipun demikian, dalam banyak kasus, hal itu sangat sulit diubah (Tramontana & Stimbert, 1970). Beberapa anak memerlukan pelatihan yang sangat ekstensif bahkan setelah mereka tidak lagi membeo kalimat yang diucapkan orang lain.

Neologisme, kata-kata ciptaan atau kata-kata yang digunakan dengan cara tidak biasa, merupakan karakteristik lain dalam pembicaraan anak-anak autistik. Seorang anak autistik berusia 2 tahun dapat menyebut milk (susu) dengan kata “moyee” dan terus menggunakannya hingga melewati masa di mana anak normal telah mampu mengatakan “milk.”

Anak-anak dengan autisme sangat kaku dalam menggunakan kata-kata.Jika seorang ayah memberikan penguat positif dengan mendudukkan si anak di bahunya ketika ia dapat mengucapkan kata “ya”, si anak dapat berkata “ya” dengan maksud bahwa ia ingin diangkat dan didudukkan ke bahu ayahnya. Atau si anak dapat berkata, “Jangan jatuhkan kucing itu” yang maksudnya adalah “tidak,” karena ibunya mengucapkan kata-kata empatik tersebut ketika si anak akan menjatuhkan kucing peliharaan keluarga tersebut.
Kelemahan komunikasi tersebut dapat menjadi penyebab kelemahan sosial pada anak-anak dengan autisme dan bukan sebaliknya. Hubungan kausal tersebut diperkuat oleh sering munculnya perilaku afeksi dan bergantung yang spontan pada anak-anak tersebut setelah mereka dilatih untuk berbicara. Meskipun demikian, sekalipun mereka telah belajar berbicara, orang-orang dengan autisme sering kali kurang memiliki spontanitas verbal dan jarang berekspresi secara verbal serta penggunaan bahasa mereka tidak selalu tepat (Paul, 1987).

Tindakan Repettitif dan Rftualistik. Anak-anak dengan autisme dapat menjadi sangat marah bila terjadi perubahan dalam rutinitas harian dan situasi sekeliling mereka. Susu yang diberikan dengan gelas yang berbeda atau perubahan letak perabotan dapat membuat mereka menangis atau memicu temper tantrum. Seorang anak harus disapa dengan serangkaian kalimat “Selamat pagi Lily, Aku sangat, sangat senang melihatmu.” Jika ada satu kata saja, bahkan satu kata “sangat,” yang tidak diucapkan, atau ada penambahan kata, si anak akan menjerit-jerit (Diamond, Baldwin, & Diamond, 1963).

Karakteristik obsesional juga terdapat dalam penilaku anak-anak autistik dengan cara yang berbeda. Ketika bermain mereka dapat terus-menerus menjajarkan berbagai mainan atau membentuk berbagai pola yang rumit dengan menggunakan berbagai benda perlengkapan rumah. Seiring bertambahnya usia, mereka dapat memiliki preokupasi pada jadwal kereta, rute kereta bawah tanah, dan urutan angka. Anakanak anak dengan autisme kemungkinan juga berperilaku dalamjumlah yang lebih terbatas dan kurang menjelajahi berbagai tempat atau suasana baru.

Anak-anak dengan autisme juga memiliki perilaku stereotipik, gerakan tangan nitualistik yang aneh, dan gerakan ritmik lainnya, seperti menggoyangkan tubuh tanpa henti, mengepak-ngepakkan tangan, dan berjalan dengan berjinjit. Mereka memutara-mutar dan meremas-remas tali, krayon, tongkat, dan piring, menggerak-gerakan jari di depan mata mereka, dan menatap kipas angin serta benda-benda yang berputar. Hal ini sering kali digambarkan sebagai aktivitas stimulasi diri. Mereka dapat memiliki preokupasi untuk mengutak-atik sebuah benda mekanis dan dapat menjadi sangat marah bila diganggu.

Daftar Pustaka
Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Karakteristik Gangguan Autistik

Sejak pertama kali diketahui, gangguan autistik telah memiliki aura yang agak mistis. Sindrom tersebut diidentifikasi pada tahun 1943 oleh seorang psikiater di Harvard, Leo Kanner, yang suatu saat dalam pelaksanaan pekerjaan klinisnya mengamati bahwa sebelas anak yang mengalami gangguan menunjukkan perilaku yang tidak ditemukan pada anak-anak dengan retardasi mental atau skilzofrenia. Ta menamai sindrom tersebut autisme infantil dini karena ia mengamati bahwa “sejak awal terdapat suatu kesendirian autistik ekstrem yang, kapan pun memungkinkan, tidak memedulikan, mengabaikan, menutup diri dari segala hal yang berasal dari luar dirinya” (Kanner, 1943).
Kanner menganggap kesendirian autistik merupakan simtom fundamental. Ia juga menemukan bahwa sejak awal kehidupan mereka kesebelas anak tersebut tidak mampu benhubungan dengan orang lain secara wajar. Mereka memiliki keterbatasan yang parah dalam bahasa dan memiliki keinginan obsesif yang kuat agar segala sesuatu yang benkaitan dengan mereka tetap persis sama. Terlepas dan deskripsi awal oleh Kanner dan yang lain (a.l., Rimland, 1964), gangguan tersebut tidak dimasukkan dalam klasifikasi diagnostik resmi hingga terbitnya DSM-TII pada tahun 1980.
Penerimaan resmi diagnosis autisme tertunda karena kebingungan yang terjadi dalam klasifikasi gangguan serius yang berawal di masa kanak-kanak. DSM-II menggunakan diagnosis skizofrenia di masa kanak-kanak untuk kondisi tersebut, menganggap bahwa autisme hanyalah bentuk skizofrenia pada orang dewasa dengan onset dini, namun bukti yang ada mengindikasikan bahwa skizofrenia dengan onset kanak-kanak dan autisme merupakan dua gangguan yang berbeda (Frith, 1989; Rutter & Schopler, 1987). Meskipun penarikan din dan kehidupan sosial dan afek yang tidak esuai yang terlihat pada anak-anak autistik tampaknya sama dengan simtomsimtom negatif skizofrenia, anak-anak autistik tidak mengalami halusinasi dan delusi dan, di atas semuanya, tidak mengalami skizofrenia ketika dewasa (Wing & Attwood, 1987). Lebih jauh lagi, orang-orang yang menderita autisme tidak memiliki prevalensi skizofrenia yang lebih tinggi dalam keluarga mereka, sebagaimana yang terjadi dalam keluarga anak-anak dan orang dewasa yang menderita skizofrenia. Berbagai karakteristik lain yang berhubungan dengan autisme, namun tidak dengan skizofrenia, termasuk rasio laki-laki-perempuan yang lebih tinggi (lebih banyak anak laki-laki yang menderita autisme dibanding anak-anak perempuan), onset di masa bayi atau masa kanak-kanak awal, dan disertai retardasi mental dan kejang-kejang epileptik.
Gangguan autistik berawal di masa kanak-kanak awal dan dapat terlihat pada bulan-bulan awal usia anak. Gangguan inijarang terjadi dalam populasi umum, pada 2 hingga S bayi dalam 10.000, atau 0,05 persen dan jumlah kelahiran. Untuk meletakkan mi dalam perspektif, ingat bahwa prevalensi skizofrenia diperkirakan sedikit di bawah 1 persen, hampir 20 kali lebih besar dan autisme. Berbagai studi menunjukkan bahwa jumlah anak laki-laki yang menderita autisme sekitar empat kali lebih besar dan anak-anak perempuan (Volkmar, Szatmari, & Sparrow, 1993). Karena berbagai sebab yang masih belum diketahui, terjadi peningkatan yang sangat besar dalam insiden autisme selama 25 tahun terakhir-sebagai contoh hampir sebesar 300% di California (Maugh, 2002). Autisme terjadi di semua kelas sosioekonomi dan kelompok etnis dan ras.
Sebagian untuk mengklarifikasi perbedaan autisme dengan skizofrenia, DSM-III memperkenalkan (dan dipertahankan dalam DSM-III-R, DSM-IV, dan DSM-IV-TR) istilah gangguan perkembangan pervasif. lstilah mi menekankan bahwa autisme mencakup abnormalitas serius dalam proses perkembangan itu sendiri sehingga berbeda dengan berbagai gangguan jiwa yang berawal di masa dewasa. Dalam DSM-IV-TR gangguan autistik hanyalah salah satu dan beberapa gangguan perkembangan pervasif; yang lain adalah gangguan Rett, gangguan disintegratif pada masa anak, dan gangguan Asperger.

• Gangguan Rett sangat jarang terjadi dan hanya terjadi pada anak perempuan. Perkembangan sepenuhnya normal hingga tahun pertama atau kedua usia anak, ketika pertumbuhan kepala si anak melambat. Anak kehilangan kemampuan untuk menggunakan tangannya untuk melakukan gerakan yang bertujuan, sebagai ganti melakukan gerakan stereotip seperti meremas tangan atau mencuci tangan; berjalan secara tidak terkoordinasi; hanya mampu untuk sedikit belajar berbicara dan mengerti ucapan orang lain; dan mengalami retardasi mental sangat berat. Si anak tidak dapat berhubungan dengan orang lain dengan baik, meskipun kondisi ini dapat membaik di kemudian hari.
• Gangguan dismntegratif di masa kanak-kanak terjadi pada anak-anak yang mengalami perkembangan normal pada dua tahun pertama usianya yang kemudian diikuti dengan hilangnya keterampilan sosial, bermain, bahasa, dan motorik secara signifikan. Abnormalitas dalam interaksi sosial dan komunikasi, dan munculnya perilaku stereotip sangat sama dengan yang terjadi pada autisme.
• Gangguan Asperger sering kali dianggap sebagai bentuk autisme ringan. Hubungan sosial kurang dan perilaku stereotip intens dan rigid, namun bahasa dan intelegensi tetap normal.

Sayangnya, sangat sedikit penelitian mengenai tiga kategori ini. Selain itu, terjadi perdebatan besar menyangkut validitas gangguan disintegratif di masa kanak-kanak dan apakah gangguan tersebut berbeda dan gangguan autistik (Hendry, 2000). Juga tidak jelas apakah gangguan Asperger secara kualitatif berbeda dengan gangguan autistic ataukah hanya berbeda dalam tingkat keparahannya. Karena berbagai keterbatasan ini, di sini kami hanya memfokuskan pada autisme.

Daftar Pustaka
Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Gangguan Sosial dan Emosional

Gangguan Sosial dan Emosional. Kami telah menyebutkan sebelumnya bahwa ke sendirian autistik merupakan bagian sentral gangguan tersebut. Dalam hal ini anak anak autistik bukan menarik din dan masyarakat-mereka memang tidak pernah sepenuhnya bergabung dengan masyarakat sejak awal. Tabel 15.4 menunjukkan gambaran dan onang tua mereka mengenai anak-anak semacam itu.
Normalnya bayi menunjukkan tanda-tanda kelekatan, biasanya kepada ibunya, sejak usia 3 bulan. Pada anak-anak dengan autisme kelekatan dini tersebut kurang terlihat. Para orang tua anak-anak autistik harus berusaha lebih keras untuk melakukan kontak dan berbagi kasih sayang dengan mereka. Anak-anak autistik jarang berusaha melibatkan orang tua mereka dalam bermain, dan mereka tidak menunjuk, menunjukkan, atau berbagi objek mainan mereka dengan orang lain.
Anak-anak dengan autisme tampak mengalami masalah keterampilan sosial yang berat. Merekajarang mendekati orang lain dan pandangan mata mereka seolah melewati orang lain atau membalikkan badan memunggungi mereka. Contohnya, sebuah studi menunjukkan bahwa anak-anak autistik jarang mengucapkan salam secara spontan ketika bertemu atau berpisah, baik secara verbal atau dengan senyuman, melakukan kontak mata, atau gerakan tangan bila bertemu atau berpisah dengan seorang dewasa (Hobson & Lee, 1998). Hanya sedikit anak dengan autisme yang lebih dulu mengajak bermain anak-anak lain, dan mereka biasanya tidak responsif kepada siapa pun yang mendekati mereka. Anak-anak dengan autisme kadang-kadang melakukan kontak mata, namun pandangan mata mereka memiliki kualitas yang tidak wajar. Anak-anak yang berkembang secara normal menatap untuk mendapatkan perhatian orang lain atau untuk mengarahkan perhatian orang lain tersebut ke suatu objek; anak-anak dengan autisme umumnya tidak demikian (Mirenda, Donnellan, & Yoder, 1983). Mereka hanya menatap saja.
Bila orang lain mengajaknya bermain, anak-anak autistik dapat mengikutinya dan melakukan aktivitas tersebut untuk beberapa waktu. Permainan fisik, seperti menggelitik dan bergulat, mungkin tidak disukai oleh anak-anak dengan autisme. Observasi terhadap perilaku bermain spontan dalam situasi yang tidak terstruktur mengungkap bahwa anak-anak dengan autisme menggunakan waktu jauh lebih sedikit untuk melakukan permainan simbolik, seperti memainkan boneka yang menyetir mobil ke toko atau menjadikan balok seolah-olah sebagai sebuah mobil, daripada anak-anak yang mengalami retardasi mental atau anak-anak normal dengan usia mental yang sama (Sigman dkk., 1987). Anak-anak autistik lebih mungkin untuk memutar-mutar sebuah balok yang disukainya secara terus-menerus selama berjam-jam.
Beberapa anak autistik tampaknya tidak mengenali atau tidak membedakan antara orang yang satu dengan yang lain. Meskipun demikian, mereka mengalami ketertarikan dan menciptakan kelekatan kuat dengan berbagai benda-benda mati (a.l., kunci, batu, keranjarig tenun, tombol lampu, selimut besar) dan berbagai benda mekanis (al., lemari es dan penyedot debu). Jika benda tersebut merupakan sesuatu yang dapat mereka bawa, mereka dapat berjalan kemana-mana dengan membawa benda tersebut di tangan sehingga menghambat mereka untuk belajar berbagai hal lain yang lebih bermanfaat.
Baru-baru ini beberapa peneliti berpendapat bahwa kelemahan “teori pikiran” pada anak autistik mencerminkan kelemahan utama dan memicu terjadinya berbagaijenis disfungsi sosial yang digambarkan di atas (Gopnik, Capps, & Meltzoff, 2000; Sigman, 1994). Teori pikiran merujuk pada pemahaman kita bahwa orang lain memiliki keinginan, keyakinan, niat, dan emosi yang dapat berbeda dengan kita. Kemampuan mi penting bagi interaksi dan pemahaman sosial. Pada anak-anak normal, teori pikiran berkembang antara usia 2,5 hingga 5 tahun. Berbeda dengan anak-anak yang perkembangannya sesuai dengan tahap tersebut, anak-anak dengan autisme tampaknya tidak mampu memahami perspektif dan reaksi emosi orang lain, membuat beberapa teoris berpendapat bahwa mereka kurang memiliki empati. Oleh karena, itu, contohnya, bila orang iua menunjukkan distress dan rasa sakit, anak dengan autisme akan menarik diri dan bukannya menunjukkan kepedulian; tindakan tersebut dapat mengindikasikan ketidakmampuan anak untuk memahämi dan berempati terhadap perasaan orang lain.
Meskipun anak-anak autistik yang memiliki keberfungsian tinggi dapat belajar untuk mengerti pengalaman emosional, mereka “menjawab pertanyaan tentang pengalaman emosional seperti anak-anak normal menjawab soal-soal aritmetik yang sulit” (Sigman, 1994, hIm. 15), dengan mengonsentrasikan upaya kognitif. Berbagai studi laboratorium terhadap anak-anak dengan autisme yang memiliki keberfungsian tinggi menemukan bahwa meskipun anak-anak tersebut dapat menunjukkan sedikit pemahaman terhadap emosi orang lain, mereka tidak sepenuhnya memahami mengapa dan bagaimana orang lain dapat merasakan berbagai emosi yang berbeda (Capps dkk., 1992, 1999; Rasco & Capps, 2001). Contohnya, bila diminta untuk menjelaskan mengapa seseorang dapat merasa marah, seorang anak dengan autisme menjawab “karena ia berteriak” (Capps, Losh, & Thurber, 2000; Rasco & Capps, 2001).
Masalah teori pikiran memang dapat menjadi inti autisme, namun masalah tersebut tidak hanya terdapat dalam gangguan mi. Sebuah kajian baru-baru ini mengenai kelemahan teori pikiran pada anak-anak dengan autisme menemukan bahwa kelemahan tersebut juga terdapat pada anak-anak yang tidak menderita autisme, namun mengalami retardasi mental (Yirmiya, Erel, Shaked, & Solomonica-Levi, 1998).

Daftar Pustaka
Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Autisme VS Retardasi Mental

Autisme dan Retardasi Mental. Hampir 80 persen anak-anak autistik memiliki skor di bawah 70 pada berbagai tes intelegensi terstandar. Karena sejumlah besar anak-anak yang menderita autisme juga mengalami retardasi mental, kadang sulit membedakan kedua disabilitas tersebut.
Meskipun demikian, terdapat beberapa perbedaan penting di antara keduanya. Meskipun anak-anak dengan retardasi mental biasanya memiliki skor rendah dalam semua bagian dan suatu tes intelegensi, skor anak-anak dengan autisme dapat memiliki pola yang berbeda. Secara umum, anak-anak dengan autisme lebih buruk dalam mengerjakan tugas-tugas yang memerlukan pemikiran abstrak, simbolisme, atau logika sekuensial, yang kesemuanya berhubungan dengan kelemahan bahasa mereka (Carpuan pentieri & Morgan, 1994).

Mereka biasanya mendapatkan nilai yang lebih baik pada. berbagai item yang memerlukan keterampilan visual-spasial, seperti mencocokkan rancangan dalam tes-tes rancangan balok dan merakit objek yang belum dirakit (Rutter, 1983). Kadang mereka dapat memiliki keahlian khusus yang mencerminkan talenta besar, seperti kemampuan mengalikan dua angka empat digit dengan cepat tanpa alat bantu apa pun. Mereka juga dapat memiliki memori jangka panjang yang luar biasa, mampu mengingat dengan tepat syair sebuah lagu yang didengar bertahun-tahun lalu. Perkembangan sensorimotorik merupakan bidang kekuatan relatif yang terbesar pada anak-anak dengan autisme. Anak-anak tersebut, yang dapat menunjukkan kelemahan berat dan sangat berat dalam kemampuan kognitif, dapat cukup elegan dan ahli dalam berayun, memanjat, atau keseimbangan, sementara anak-anak dengan retardasi mental jauh lebih lambat dalam perkembangan motonik

Daftar Pustaka
Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology