Contoh Kasus Kisah Seorang Perempuan Autistik dengan Keberfungsian Tinggi

Temple Grandin adalah seorang perempuan autistik. Ia juga memiliki gelar Doktor dalam ilmu hewan, menjalankan bisnisnya sendiri yang bergerak dalam perancangan mesin untuk digunakan pada hewan ternak, dan menjadi stafpengajár di Colorado State University. Dua buku otobiografi (Grandin, 1986, 1995) dan sebuah profil oleh neurolog Oliver Sacks (1995) menampilkan potret yang menyentuh dan gamblang tentang membingungkannya autisme.

Kurang memahami kompleksitas dan kehalusan hubungan sosial manusia, kurang mampu berempati dengan orang lain, Grandin merangkum hubungannya dengan dunia nonautistik dengan kata-kata, “Hampir sepanjang waktu saya merasa seperti seorang antropolog di planet Mars” (Sacks, 1995, hIm. 259). Karena kadar keberfungsian intelektualnya yang tinggi, diagnosis sindroma Asperger dapat diterapkan. Meskipun demikian, terdapat kontroversi mengenai apakah gangguan tersebut merupakan entitas diagnosis tersendiri atau dipandang sebagai bentuk autisme yang lebih ringan.

Grandin mengisahkan perilaku impulsif dan kemarahan liar yang tiba-tiba semasa kanak-kanaknya, serta fokus perhatian yang berlebihan, “sebuah selektivitas yang sangat intens sehingga dapat menciptakan dunianya sendiri, suatu tempat yang tenang dan teratur di tengah kekacauan dan kegaduhan” (Sacks, 1995, him 254). Ia menggambarkan “sensasi meningkat, kadang hingga ke tingkat yang tidak tertahankan [dan] ia menyebut telinganya, di usia 2 atau 3 tahun, sebagai mikrofon yang tidak berdaya, mentransmisikan apa pun, tanpa menghargai relevansinya, dengan volume penuh dan tidak tertahankan” (Sacks, 1995, hlm. 254).

Didiagnosis menderita autisme ketika berusia 3 tahun, Grandin sama sekali tidak berbicara, dan para dokter memprediksi bahwa dirawat di rumah sakitjiwa akan menjadi takdirnya. Dengan bantuan sebuah sekolah perawat terapeutik dan terapi bicara serta dukungan keluarganya, ia belajar berbicara di usia 6 tahun dan mulai lebih banyak berhubungan dengan orang lain. Namun, tetap saja sebagai seorang remaja yang mengamati anak-anak lain berinteraksi, Grandin “kadang menduga-duga apakah mereka semua memiliki kemampuan telepati” (Sacks, 1995, hlm. 272), baginya kemampuan anak-anak normal untuk saling memahami kebutuhan dan keinginan mereka, untuk berempati, dan untuk berkomunikasi merupakan hal yang sangat misterius.
Ketika mengunjunginya suatu hari di universitas tempatnya mengajar, Sacks melakukan beberapa observasi yang menunjukkan ciri autistik orang yang luar biasa tersebut.
Ia mengajak saya duduk [di kantornya] dengan sedikit penerimaan resmi, tidak ada perkenalan, tidak ada keramahtamahan sosial, tidak ada percakapan ringan nlengenai perjalanan saya atau apa yang saya sukai tentang Colorado. Ia langsung berbicara tentang pekerjaannya, berbicara tentang hetertarikannya sejak dini terhadap psikologi dan perilaku hewan, bagaimana mere ha berhubungan dengan pengamatan din dan suatu rasa tentang lzebutuhannya sendiri sebagai seorang autistik, dan bagainiana hal mi menyatu dengan bagman yang melakukan visualisasi dan rekayasa [yang sangat berkembang] dalam pikirannya dan mengarahkannya pada bidang khusus yang telah diciptakannya: rancangan peternakan, area untuk memberi makan, kandang, rumah-rumah potong- berbagai macam sistem untuk manajemen hewan.
Ia berbicara dengan baik dan jelas, namun dengan dorongan dan kepastian yang tidak dapat dihentikan. Sebuah kalimat, sebuah paragraf, bila sudah diucaphan, hat-us diselesaikan; tidak ada yang inipltsit, nlenggantung di udara. (Sacks, 1995, hlm. 256-257).
Setelah melakukan perjalanan seharian, melewatkan waktu makan siang, merasa lapar dan haus, Sacks berharap dengan sia-sia bahwa Grandin akan memahami kelelahan dan kebutuhannya dan menawarkan minuman atau mengajaknya ke suatu tempat untuk makan, namun setelah satu jam, menyadari bahwa hal itu tidak akan terjadi, ia meminta secangkir kopi.
Tidak ada kata-kata “Maaf, seharusnya saya menawarkan kepada Anda sejak tadi,” tidak ada basa-basi, tidak ada hubungan sosial. Ia justru segera mengantar saya he tempat teko kopi yang selalu dipanaskan di kantor sekretaris di lantai atas. Ia memperhenalkan saya hepada para sehretans dengan cara yang agak kasar membuat saya berpikir, sekali lagi, tentang seseorang yang telah mempelajari, secara tidak sempurna, “bagaimana berperilaku” dalani situasi semacam itu tanpa inetniliki persepsi pribadi yang cukup dalam tentang perasaan orang lain-nuansa dan hehalusan sosialyangterkandung di dalamnya. (Sacks, 1995, him. 257)
Dalam bukunya Grandin mengungkapkan bahwa banyak orang autistik sangat menggemari Star Trek, terutama Spock dan Data. Spock berasal dan ras Vuikan, memiliki karakteristik pendekatan yang murni intelektual dan iogis yang menghindaii setiap pertimbangan sisi emosionai dalam kehidupan. Sementara itu, data adaiah android, sebuah komputer yang sangat canggih berbentuk tubuh manusia dan, seperti halnya Spock, kurang memiliki pengalaman afektif. (Salah satu tema dramatis kedua karakter tersebut adalah, tentu saja, ketertarikan mereka terhadap pengaiaman emosi manusia, yang digambarkan dengan kepedihan tertentu yang diaiami Data. mi juga merupakan tema dalam hidup Grandin). Seperti ditulis Grandin diusianya yang ke-47:
Sepanjang hidup saya menjadi pengamat, dan saya selalu merasa seperti orang yang mengamati dari luar. Saya tidak dapat berpartisipasi dalam interaksi sosial kehidupan SMU.
Bahkan hingga hari ini, hubungan sosial adalah suatu hal yang benar-benar tidak saya pahami. Saya tetap melajang karena hidup melajang membantu saya menghindani berbagai situasi rumit yang terlalu sulit untuk saya. hadapi. Para laki-laki yang in gin berhencan sering kali tidak memahami bagaimana berhubungan dengan seorang perempuan. Mereka (dan saya) mengingathan pada Data, android dalam Star Trek. Dalarn salah satu episode, upaya Data untuk berkencan menjadi suatu hekacauan. Ketika ia berusaha menjadi romantis (dengan melakukan perubahan dalam satu subrutin program homputernya), ia memuji teman kencannya dengan menggunakan istilah ilmiah. Bahkan orang-orang dewasa dengan autisme yang memiliki hemampuan tinggi mengalami masalah semacam itu. (1995, him. 132-133)

Beberapa kelemahan orang-orang dengan autisme membuat mereka iuar biasa jujur dan dapat dipercaya. “Berbohong,” tuiis Grandin, “sangat mencemaskan karena memeriukan interpretasi cepat atas tanda-tanda sosiai yang tidak teriihat jelas (yang tidak mampu saya lakukan) untuk mengetahui apakah orang tersebut benar-benarberhasil kita bohongi” (Grandin, 1995, hlm. 135).

Grandin memiiiki karier profesionai yang mengesankan. Dia memanfaatkan kemampuan visuaIisasinya yang iuar biasa dan empatinya pada hewan-hewan ternak untuk merancang berbagai alat seperti terowongan sapi ke rumah pemotongan yang menggiring mereka dengan rute melingkar, menjaga mereka agar tidak menyadari bahwa mereka akan segera dipotong hingga saatnya tiba. lajuga merancang dan menciptakan “niesin pendekap,” sebuah alat yang memberikan pelukan nyaman tanpa memerlukan kontak dengan manusia. Alat itu memiiiki “dua bagian samping dan kayu yang berat dan menyudut, yang masing-masing berukuran kira-kira 121 cm x 91 cm, yang dengan manis dilapisi bantaian tebal dan lembut. Kedua sisi tersebut disatukan dengan rnenggunakan engsel ke sebuah papan bagian bawah yang panjang dan sempit sehingga membentuk V, sebuah ceiah seukuran tubuh. Terdapat sebuah kotak kendali yang rumit di salah satu ujungnya, dengan beberapa tabung yang berat yang tersambut ke alat lain, daiam sebuah lemani. Sebuah kompresor industrial ‘menghasiikan tekanan kuat, namun nyaman pada tubuh, dan bahu ke lutut’” (Sacks, 1995, him262-263). Penjelasannya tentang alasan di baiik penciptaan mesin tersebut adaiah semasa kecil ia rindu untuk dipeluk, namun juga sangat takut terhadap kontak fisik dengan orang lain. Ketika seorang bibi kesayangan yang bertubuh besar memeiuknya, ia merasa ketakutan sekaligus nyaman. Teror menyatu dengan kenikmatan.
Ia mulai sering melamun-ia baru berusia 5 tahun ketika itu-tentang mesin ajaib yang dapat mendekapnya dengan kuat namun lembut, seperti pelukan, dan dengan cara yang sepenuhnya dipenintah dan dikendalihan olehnya. Bertahun-tahun kemudian, ketika remaja, ia melihat foto sebuah jeram penahan yang dirancang untuk menahan atau men gurung anak sapi dan menyadari bahwa itulah yang diinginkannya: sedikit modifihasi agar cocok digunakan oleh manusia, dan alat itu dapat menjadi mesin ajaibnya. (Sacks, 1995, hlm. 263)
Setelah melihatnya mendemonstrasikan mesin tersebu dan mencobanya sendiri, Sacks menuliskan pengamatannya:
Tidak hanya kenikmatan atau relaksasi yang diperoleh Temple dan alat tersebut namun, ia menjaga, suatu perasczan kepada orang lain. Ketika ia be rba ring di dalam alat tersebut, ia mengatahan, pikirannya sering kali melayang he ibunya, bibi kesayangannya, guru-gurunya. Ia merasakan perasaan sayangnya hepada mereka, dan rasa sayang mere ha kepadanya. Ia merasa alat tersebut membukakan pintu he dunia emosional yang tertutup dan memunghinhannya, bahkan hampir mengajarinya, untuk berempati hepada orang lain. (Sacks, 1995, hlm. 264)
Sacks sangat mengagumi keberhasilan profesional Grandin dan kehidupannya yang menarik serta produktif yang diciptakannya bagi dirmnya sendini, namun bila menyangkut interaksi manusia jeiaslah ia tidak memahammnya. “Saya terperangah dengan perbedaan yang sangat besar, kesenjangan, antara pernahaman Temple yang cepat dan intuitif terhadap mood hewan serta tanda-tanda emosi mereka dan kesulitan iuar biasa yang dialammnya dalam memahami manusia, kode dan sinyal yang mereka tunjukkan, cara mereka herperilaku” (hlm. 373).
Berbagai penjelasan seperti yang disampaikan Grandin dan Sacks dapat memberikan pencerahan mengenai berbagai cara beradaptasi dengan berbagai perilaku aneh, dengan memanfaatkan bakat yang terkadang aneh yang dimiliki seseorang dan menghindari berbagai kelemahan yang menjadi penghambat bagi seseorang. “Autisme, meskipun bersifat patologis sebagat suatu sindrom, juga harus dilihat sebagai bentuk keberadaan yang utuh, suatu bentuk atau identitas yang sangat berbeda, suatu bentuk yang harus disadari (dan dibanggakan) oleh bentuk itu sendiri,” tulis Sacks (him. 277). “Dalam sebuah kuiiah belum lama berselang, Temple mengakhiri kuliahnya dengan mengatakan, “Jika saya dapat menjentikkan Jan dan menjadi tidak autistik, saya tidak akan meiakukannya-karena kemudian saya tidak lagi menjadi din saya. Autisme adalah bagian dari diri saya”

Daftar Pustaka
Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: