Gangguan Sosial dan Emosional

Gangguan Sosial dan Emosional. Kami telah menyebutkan sebelumnya bahwa ke sendirian autistik merupakan bagian sentral gangguan tersebut. Dalam hal ini anak anak autistik bukan menarik din dan masyarakat-mereka memang tidak pernah sepenuhnya bergabung dengan masyarakat sejak awal. Tabel 15.4 menunjukkan gambaran dan onang tua mereka mengenai anak-anak semacam itu.
Normalnya bayi menunjukkan tanda-tanda kelekatan, biasanya kepada ibunya, sejak usia 3 bulan. Pada anak-anak dengan autisme kelekatan dini tersebut kurang terlihat. Para orang tua anak-anak autistik harus berusaha lebih keras untuk melakukan kontak dan berbagi kasih sayang dengan mereka. Anak-anak autistik jarang berusaha melibatkan orang tua mereka dalam bermain, dan mereka tidak menunjuk, menunjukkan, atau berbagi objek mainan mereka dengan orang lain.
Anak-anak dengan autisme tampak mengalami masalah keterampilan sosial yang berat. Merekajarang mendekati orang lain dan pandangan mata mereka seolah melewati orang lain atau membalikkan badan memunggungi mereka. Contohnya, sebuah studi menunjukkan bahwa anak-anak autistik jarang mengucapkan salam secara spontan ketika bertemu atau berpisah, baik secara verbal atau dengan senyuman, melakukan kontak mata, atau gerakan tangan bila bertemu atau berpisah dengan seorang dewasa (Hobson & Lee, 1998). Hanya sedikit anak dengan autisme yang lebih dulu mengajak bermain anak-anak lain, dan mereka biasanya tidak responsif kepada siapa pun yang mendekati mereka. Anak-anak dengan autisme kadang-kadang melakukan kontak mata, namun pandangan mata mereka memiliki kualitas yang tidak wajar. Anak-anak yang berkembang secara normal menatap untuk mendapatkan perhatian orang lain atau untuk mengarahkan perhatian orang lain tersebut ke suatu objek; anak-anak dengan autisme umumnya tidak demikian (Mirenda, Donnellan, & Yoder, 1983). Mereka hanya menatap saja.
Bila orang lain mengajaknya bermain, anak-anak autistik dapat mengikutinya dan melakukan aktivitas tersebut untuk beberapa waktu. Permainan fisik, seperti menggelitik dan bergulat, mungkin tidak disukai oleh anak-anak dengan autisme. Observasi terhadap perilaku bermain spontan dalam situasi yang tidak terstruktur mengungkap bahwa anak-anak dengan autisme menggunakan waktu jauh lebih sedikit untuk melakukan permainan simbolik, seperti memainkan boneka yang menyetir mobil ke toko atau menjadikan balok seolah-olah sebagai sebuah mobil, daripada anak-anak yang mengalami retardasi mental atau anak-anak normal dengan usia mental yang sama (Sigman dkk., 1987). Anak-anak autistik lebih mungkin untuk memutar-mutar sebuah balok yang disukainya secara terus-menerus selama berjam-jam.
Beberapa anak autistik tampaknya tidak mengenali atau tidak membedakan antara orang yang satu dengan yang lain. Meskipun demikian, mereka mengalami ketertarikan dan menciptakan kelekatan kuat dengan berbagai benda-benda mati (a.l., kunci, batu, keranjarig tenun, tombol lampu, selimut besar) dan berbagai benda mekanis (al., lemari es dan penyedot debu). Jika benda tersebut merupakan sesuatu yang dapat mereka bawa, mereka dapat berjalan kemana-mana dengan membawa benda tersebut di tangan sehingga menghambat mereka untuk belajar berbagai hal lain yang lebih bermanfaat.
Baru-baru ini beberapa peneliti berpendapat bahwa kelemahan “teori pikiran” pada anak autistik mencerminkan kelemahan utama dan memicu terjadinya berbagaijenis disfungsi sosial yang digambarkan di atas (Gopnik, Capps, & Meltzoff, 2000; Sigman, 1994). Teori pikiran merujuk pada pemahaman kita bahwa orang lain memiliki keinginan, keyakinan, niat, dan emosi yang dapat berbeda dengan kita. Kemampuan mi penting bagi interaksi dan pemahaman sosial. Pada anak-anak normal, teori pikiran berkembang antara usia 2,5 hingga 5 tahun. Berbeda dengan anak-anak yang perkembangannya sesuai dengan tahap tersebut, anak-anak dengan autisme tampaknya tidak mampu memahami perspektif dan reaksi emosi orang lain, membuat beberapa teoris berpendapat bahwa mereka kurang memiliki empati. Oleh karena, itu, contohnya, bila orang iua menunjukkan distress dan rasa sakit, anak dengan autisme akan menarik diri dan bukannya menunjukkan kepedulian; tindakan tersebut dapat mengindikasikan ketidakmampuan anak untuk memahämi dan berempati terhadap perasaan orang lain.
Meskipun anak-anak autistik yang memiliki keberfungsian tinggi dapat belajar untuk mengerti pengalaman emosional, mereka “menjawab pertanyaan tentang pengalaman emosional seperti anak-anak normal menjawab soal-soal aritmetik yang sulit” (Sigman, 1994, hIm. 15), dengan mengonsentrasikan upaya kognitif. Berbagai studi laboratorium terhadap anak-anak dengan autisme yang memiliki keberfungsian tinggi menemukan bahwa meskipun anak-anak tersebut dapat menunjukkan sedikit pemahaman terhadap emosi orang lain, mereka tidak sepenuhnya memahami mengapa dan bagaimana orang lain dapat merasakan berbagai emosi yang berbeda (Capps dkk., 1992, 1999; Rasco & Capps, 2001). Contohnya, bila diminta untuk menjelaskan mengapa seseorang dapat merasa marah, seorang anak dengan autisme menjawab “karena ia berteriak” (Capps, Losh, & Thurber, 2000; Rasco & Capps, 2001).
Masalah teori pikiran memang dapat menjadi inti autisme, namun masalah tersebut tidak hanya terdapat dalam gangguan mi. Sebuah kajian baru-baru ini mengenai kelemahan teori pikiran pada anak-anak dengan autisme menemukan bahwa kelemahan tersebut juga terdapat pada anak-anak yang tidak menderita autisme, namun mengalami retardasi mental (Yirmiya, Erel, Shaked, & Solomonica-Levi, 1998).

Daftar Pustaka
Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: