Komunikasi si dia..

Kekurangan Komunikasi. Bahkan sebelum mereka menguasai bahasa, anak-anak autistik menunjukkan kelemahan dalam komunikasi. Mengoceh (babbing), istilah yang menggambarkan ucapan bayi sebelum mereka mulai mengucapkan kata-kata sebenarnya, jarang dilakukan para bayi dengan autisme dan menyampaikan lebih sedikit informasi dibanding pada bayi-bayi lain (Ricks, 1972). Pada usia 2 tahun, anak-anak yang berkembang secara normal menggunakan kata-kata untuk menyebut berbagai objek di sekeliling mereka dan membentuk kalimat yang terdiri dan satu dan dua kata untuk mengekspresikan pikiran yang lebih kompleks, seperti “Ibu pergi” atau “Aku minum.” Sekitar 50 persen anak-anak autistik tidak pernah belajar berbicara sama sekali (Paul, 1987). Sementara itu, pada mereka yang belajar berbicara, bicaranya mencakup berbagai keanehan.

Salah satu cirinya adalah ekolalia, di mana si anak mengulangi, biasanya dengan ketepatan luar biasa, perkataan orarig lain yang didengarnya. Seorang guru dapat bertanya pada seorang anak autistik, “Apakah kamu ingin sepotong kue?” Si anak dapat menjawab dengan kalimat “Apakah kamu ingin sepotong kue?” mi merupakan ekolalia langsung. Dalam ekolalia tertunda si anak dapat berada di ruangan dengan televisi menyala dan tampaknya sama sekali tidak tertarik pada acara televisi. Beberapa jam kemudian atau bahkan keesokan harinya; si anak dapat mengulang saw kata atau kalimat dalam program televisi tersebut. Anak-anak autistik yang tidak berbicara yang di kemudian hari dapat berbicara secara fungsional melalui latihan biasanya pertama-tama melewati tahap ekolalia.

Di masa lalu, sebagian besar pendidik dan peneliti yakin bahwa ekolalia tidak memiliki tujuan fungsional. Meskipun demikian, ekolalia dapat merupakan upaya untuk berkomunikasi (Prizant, 1983). Si anak yang ditawari sepotong kue dapat memutuskan setelahnya bahwa ia menginginkan kue tersebut. Si anak akan mendekati guru tersebut dan bertanya, “Apakah kamu ingin sepotong kue?” Meskipun si anak mungkin tidak memahami arti masing-masing kata tersebut, ia telah mempelajari bahwa kata-kata yang diucapkan sebelumnya oleh orang dewasa tersebut berhubungan dengan mendapatkan sepotong kue.

Abnormalitas bahasa lain yang umum terdapat dalam pembicaraan anak-anak autistik adalah pembalikan kata ganti. Anak-anak merujuk dirinya sendiri dengan kata ganti “ia”, “dia”, atau “kamu” atau dengan menyebut nama mereka sendiri. Pembalikan kata ganti berkaitan erat dengan ekolalia. Karena anak-anak autistik sering kali berbicara ekolalik, mereka merujuk din sendiri seperti yang mereka dengar ketika orang lain berbicara tentang mereka dan salah menerapkan kata ganti tersebut. Contohnya:
Orang tua : Kamu sedang apa, Johnny?.
Anak : Ia di sini
Orang tua : Apakah kamu merasa senang?
Anak : Ia tahu itu.
Jika kemampuan bicara terus berkembang lebih normal, pembalikan kata ganti mi dapat diharapkan akan hilang. Meskipun demikian, dalam banyak kasus, hal itu sangat sulit diubah (Tramontana & Stimbert, 1970). Beberapa anak memerlukan pelatihan yang sangat ekstensif bahkan setelah mereka tidak lagi membeo kalimat yang diucapkan orang lain.

Neologisme, kata-kata ciptaan atau kata-kata yang digunakan dengan cara tidak biasa, merupakan karakteristik lain dalam pembicaraan anak-anak autistik. Seorang anak autistik berusia 2 tahun dapat menyebut milk (susu) dengan kata “moyee” dan terus menggunakannya hingga melewati masa di mana anak normal telah mampu mengatakan “milk.”

Anak-anak dengan autisme sangat kaku dalam menggunakan kata-kata.Jika seorang ayah memberikan penguat positif dengan mendudukkan si anak di bahunya ketika ia dapat mengucapkan kata “ya”, si anak dapat berkata “ya” dengan maksud bahwa ia ingin diangkat dan didudukkan ke bahu ayahnya. Atau si anak dapat berkata, “Jangan jatuhkan kucing itu” yang maksudnya adalah “tidak,” karena ibunya mengucapkan kata-kata empatik tersebut ketika si anak akan menjatuhkan kucing peliharaan keluarga tersebut.
Kelemahan komunikasi tersebut dapat menjadi penyebab kelemahan sosial pada anak-anak dengan autisme dan bukan sebaliknya. Hubungan kausal tersebut diperkuat oleh sering munculnya perilaku afeksi dan bergantung yang spontan pada anak-anak tersebut setelah mereka dilatih untuk berbicara. Meskipun demikian, sekalipun mereka telah belajar berbicara, orang-orang dengan autisme sering kali kurang memiliki spontanitas verbal dan jarang berekspresi secara verbal serta penggunaan bahasa mereka tidak selalu tepat (Paul, 1987).

Tindakan Repettitif dan Rftualistik. Anak-anak dengan autisme dapat menjadi sangat marah bila terjadi perubahan dalam rutinitas harian dan situasi sekeliling mereka. Susu yang diberikan dengan gelas yang berbeda atau perubahan letak perabotan dapat membuat mereka menangis atau memicu temper tantrum. Seorang anak harus disapa dengan serangkaian kalimat “Selamat pagi Lily, Aku sangat, sangat senang melihatmu.” Jika ada satu kata saja, bahkan satu kata “sangat,” yang tidak diucapkan, atau ada penambahan kata, si anak akan menjerit-jerit (Diamond, Baldwin, & Diamond, 1963).

Karakteristik obsesional juga terdapat dalam penilaku anak-anak autistik dengan cara yang berbeda. Ketika bermain mereka dapat terus-menerus menjajarkan berbagai mainan atau membentuk berbagai pola yang rumit dengan menggunakan berbagai benda perlengkapan rumah. Seiring bertambahnya usia, mereka dapat memiliki preokupasi pada jadwal kereta, rute kereta bawah tanah, dan urutan angka. Anakanak anak dengan autisme kemungkinan juga berperilaku dalamjumlah yang lebih terbatas dan kurang menjelajahi berbagai tempat atau suasana baru.

Anak-anak dengan autisme juga memiliki perilaku stereotipik, gerakan tangan nitualistik yang aneh, dan gerakan ritmik lainnya, seperti menggoyangkan tubuh tanpa henti, mengepak-ngepakkan tangan, dan berjalan dengan berjinjit. Mereka memutara-mutar dan meremas-remas tali, krayon, tongkat, dan piring, menggerak-gerakan jari di depan mata mereka, dan menatap kipas angin serta benda-benda yang berputar. Hal ini sering kali digambarkan sebagai aktivitas stimulasi diri. Mereka dapat memiliki preokupasi untuk mengutak-atik sebuah benda mekanis dan dapat menjadi sangat marah bila diganggu.

Daftar Pustaka
Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: