PENAGANAN GANGGUAN AUTISTIK DENGAN BEBERAPA TEORI

Karena pengisolasian din mereka sangat menyentuh dan simtom-simtom yang mereka alami sangat berat, begitu banyak perhatian diberikan untuk meningkatkan kondisi anak-anak dengan autisme. Seperti hainya pada teori mengenai etiologi, berbagai upaya terdahulu bersifat psikologis, dan beberapa di antaranya sangat menjanjikan. Belum lama berselang, berbagai terapi psikofarmaka juga telah diteliti, dengan sedikit hasil positif. Penanganan untuk anak-anak autistik biasanya mencoba mengurangi perilaku mereka yang tidak wajar dan meningkatkan keterampilan komunikasi dan sosial. Kadang tujuan yang sangat ingin dicapai bagi keluarga adalah sekadar dapat mengajak anak autistik mereka ke restoran atau pasar tanpa menarik perhatian negatif dari orang lain.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun teori biologis mengenal etiologi autisme jauh lebih banyak mendapatkan dukungan empiris dibanding Leon psikologis, intervensi psikologislah, bukan intervensi biologis, yang saat mi paling menjanjikan. Suatu kerusakan biologis tidak berarti mengesampingkan penanganan psikologis.

Masalah Khusus dalam Menangani Anak-anak dengan Autisme. Anak-ariak dengan autisme memiliki beberapa karakteristik yang membuat mereka sulit ditangani. Salah satunya, mereka tidak dapat menyesuaikan din dengan baik terhadap perubahan rutinitas, dan karakteristik serta tujuan utama penanganan mencakup perubahan. Karakteristik lain, pengisolasian din, dan gerakan stimulasi din yang mereka lakukan dapat menghambat pengajaran yang efektif. Meskipun perilaku yang sama pada anakanak dengan disabilitas lainnya dapat menghambat berbagai upaya guru, tidak dengan frekuensi dan keparahan yang sama dengan autisme.

Selain itu, sangat sulit menemukan cara untuk memotivasi anak-anak dengan autisme. Agar dapat berdampak efektifpada anak-anak tersebut, penguat hams eksplisit, konkret, dan sangat menonjol. Sebuah metode yang banyak digunakan dengan meningkatkan rentang penguat yang direspons oleh anak-anak autistik adalah mernasangkan penguatan sosial, seperti pujian, dengan penguat primer, seperti makanan yang sangat diinginkan (Davison, 1964). Masalah lain yang sering kali menghambat pembelajaran anak-anak dengan autisme adalah selektivitas mereka yang berlebihan dalam mengarahkan perhatian; bila perhatian si anak terfokus pada satu aspek tertentu dalam suatu tugas atau situasi, maka muatan lain, termasuk yang memiliki relevansi, dapat diabaikan sama sekali (Lovaas dkk., 1971). Karakteristik selektivitas yang berlebihan dalam perhatian yang diberikan anakanak tersebut sangat menyulitkan mereka untuk menggeneralisasi atau menerapkan pembelajaran ke berbagai bidang lain. Contohnya, anak yang telah mempelajari beberapa kata dengan mengamati gerak bibir instruktur dapat tidak memahami katakata yang sama yang diucapkan oleh orang lain dengan gerak bibir yang kurang tegas.

Terlepas dan semua masalah tersebut, berbagai program pendidikan untuk anakanak dengan autisme telah memberikan beberapa hasil positif, yang akan kita bahas pada bagian berikut. Penanganan Behavioral untuk Anak-anak dengan Autisme. Menggunakan modeling dan pengondisian operant, para terapis perilaku mengajari anak-anak autistik untuk berbicara (Hewett, 1965), mengubah bicara ekolalik mereka (Carr, Schreibman, & Lovaas, 1975), mendorong mereka untuk bermain dengan anak lain (Romanczyk dkk., 1975), dan membantu mereka secara umum menjadi lebih responsif kepada orang dewasa (Davison, 1964).
Ivar Lovaas, peneliti klinis terkemuka di University of California di Los Angeles, menjalankan program operant intensifbagi anak-anak autistik yang masih sangat muda (di bawah usia 4 tahun) (Lovaas, 1987). Terapi mencakup semua aspek kehidupan anak-anak selama lebih dan 40 jam seminggu dalam waktu lebih dan 2 tahun. Para orang tua diberi pelatihan ekstensifsehingga penanganan dapat terus dilakukan hampir selama waktu terjaga anak-anak tersebut. Sembilan belas anak yang menjalani penanganan intensif tersebu t dibandingkan dengan 40 anak dalam kelompok kontrol yang menjalani penanganan yang sama selama kurang 10 jam per minggu. Semua anak diberi hadiah bila berperilaku kurang agresif, lebih patuh, dan lebih berperilaku pantas secara sosial-contohnya, berbicara dan bermain dengan anak-anak lain.

Tujuan program tersebut adalah membaurkan anak-anak tersebut dengan asumsi bahwa nak-anak autistik, seiring membaiknya kondisi mereka, akan lebih memperoleh manfaat bila berbaur bersama anak-anak normal dibanding bila tetap menyendiri atau bersama dengan anak-anak lain yang juga mengalami gangguan serius.
Studi yang menjadi tonggak tersebut meniberikan berbagai hasil yang dramatis dan membesarkan hati. Skor rata-rata IQ yang diukur pada kelompok terapi intensif adalah 83 di kelas 1 (setelah sekitar 2 tahun menjalani terapi intensif) dibandingkan dengan sekitar 55 pada anak-anak dalam kelompok kontrol; 12 di antara 19 anak tersebut mencapai skor dalam rentang normal, sementara dalam kelompok kontrol hanya dua (dari 40 anak). Lebih jauh lagi, 9 dan 19 anak dalam kelompok terapi intensif dapat naik ke kelas 2 di sekolah umum reguler, sementara hanya 1 orang dan kelompok kontrol yang berjumlah lebih banyak yang mencapai tingkat keberfungsian normal tersebut. Pemantauan terhadap anak-anak tersebut empat tahun kemudian mengindikasikan bahwa anak-anak dalam kelain pas penanganan intensif dapat mempertahankan manfaat yang mereka peroleh dalam skor IQ, perilaku adaptif, dan kenaikan kelas di sekolah (McEachin, Smith, & Lovaas, 1993). Meskipun banyak kritik diarahkan ke berbagai kelemahan metodologi dan pengukuran hasil studi tersebut (Schopler, Short, & Mesibov, 1989), program yang ambisius tersebut mempertegas berbagai manfaat yang dihasilkan dan keterlibatan penuh para profesional dan orang tua dalam menghadapi tantangan ekstrem gangguan autistik.

Terdapat alasan untuk meyakini bahwa pendidikan yang diberikan oleh orang tua lebih bermanfaat bagi anak daripada penanganan berbasis klinik atau rumah sakit. Orang tua hadir dalam berbagai situasi yang berbeda sehingga dapat membantu anak-anak menggeneralisasikan manfaat yang mereka peroleh. Contohnya, Koegel dan para koleganya (1982) menunjukkan bahwa 25 hingga 30 jam pelatihan bagi orang tua sama efektifnya dengan 200 jam penanganan langsung di klinik dalam hal memperbaiki perilaku,anak-anak autistik. Belum lama berselang, kelompok penelitian Koegel memfokuskan pada perbandingan berbagai strategi pelatihan behavioral bagi orang tua, yang menghasilkan berbagai temuan menarik. Daripada mengajari para orang tua untuk memfokuskan pada mengubah perilaku bermasalah yang ditargetkan secara individual dengan cara berurutan, Koegel, Bimbela, dan Schreibman (1996) menemukan bahwa para orang tua dapat menjadi lebih efekttf bila diajari untuk terfokus pada meningkatkan motivasi dan responsivitas umum anak-anak autistik mereka. Contohnya, mengijinkan anak untuk memilih bahaniversity bahan pengajaran, memberikan penguat alarni (al., bermain dan pujian sosial) daripada penguat berupa makanan, dan menguatkan upaya untuk mrespon serta memperbaiki respons dapat meningkatkan interaksi keluarga dan komunikasi yang lebih positif dengan anak-anak autistik mereka. Salah satu intervensi pertama yang berupaya melibatkan orang tua dalam proses penanganan adalah program ThACHC, atau Treatment and Education of Autistic and related Communication Handicapped Children, yang dikembangkan oleh Schopler dan para koleganya di University of North Carolina (Schopler, 1986). Intervensi berbasis komunitas mi menekankan kerja sama orang tua dan guru dalam penanganan autisme. Berbagai varian program TEACHC telah diadopsi di sejumkh negara, termasuk Swedia dan Jepang.
Meskipun demikian, harus dipahami dengan jelas bahwa beberapa anak autistik dan anak-anak yang mengalami gangguan parah lainnya hanya dapat dirawat secara memadai di rumah sakit atau di rumah bersama yang ditangani oleh para profesional kesehatan mental. Terlebih lagi, kondisi beberapa keluarga tidak memungkinkan untuk perawatan di rumah bagi anak yang mengalami gangguan parah. Penanganan efektif yang dapat diimplementasikan oleh orang tua tidak berarti bahwa hal itu merupakan cara yang tepat bagi semua keluarga.

Penanganan Psikodinamika bagi Anak-anak dengan Autisme. Karena ia menganggap bahwa masalah kelekatan dan kelemahan emosional sebagai penyebab autisme, Bruno Bettelheim (1967, 1974) berpendapat bahwa atmosfer yang hangat dan penuh kasih sayang harus diciptakan untuk mendorong si anak memasuki dunia. Kesabaran dan hal yang disebut oleh para Rogerian sebagai penerimaan positif tanpa syarat diyakini merupakan hal yang diperlukan oleh anak dengan autisme untuk mulai memercayai orang lain dan untuk mengambil kesempatan dalam membangun hubungan dengan orang lain. Di Sekolah Orthogeniknya di Universitas Chicago, Bettelheim dan para koleganya melaporkan banyak contoh keberhasilan, namun ciri observasi mereka yang tidak dikendalikan menyulitkan untuk mengevaluasi klaim mereka. Lebih jauh lagi, akurasi lap oran Betteiheim mengenai prosedur yang digunakan dan keberhasilan yang dicapai para siswa di sekolahnya telah dipertanyakan, memunculkan keraguan serius atas kebenaran klaimnya (Gardner, 1997; Pollak, 1997).

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. K Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- J Jakarta: Pt R RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi :h hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: