Archive for May, 2010

sekilas gangguan kecemasan pada Masa Kanak-kanak dan Penarikan Diri Secara Sosial

Sebagian besar anak-anak mengalami ketakutan dan kekhawatiran sebagai bagian dari proses perkembangan normal. Sebuah laporan klasik.oleh jersild dan Holmes (1935) mengindikasikan bahwa anak-anak usia 2 hingga 6 tahun memiliki rata-rata lima ketakutan, dan penemuan yang sama juga dilaporkan oleh para peneliti berikutnya (al., Lapouse dan Monk, 1959). Ketakutan umum, yang sebagian besar berkembang lebih cepat, meliputi ketakutan terhadap kegelapan dan makhluk khayalan (pada anak-anak di bawah lima tahun) dan ketakutan dipisahkan dan orang tua (pada anak-anak di bawah umur 10 tahun). Secara umum, seperti halnya pada orang dewasa, rasa takut dan fobia dilaporkan Iebih banyak terjadi pada anak perempuan dibanding pada anak laki-laki (Lichenstein dan Annas, 2000), walaupun perbedaan tersebut mungkin sebagian disebabkan oleh tekanan sosial pada anak laki-laki untuk tidak mengakui bahwa mereka merasa takut terhadap sesuatu. Untuk dapat. digolongkan sebagai gangguan, ketakutan dan kekhawatiran harus menyebabkan terganggunya keberfungsian anak; walaupun demikian, tidak seperti orang dewasa, tidak perlu ada pengakuan dan anak-anak bahwa ketakutan mereka sebagai sesuatu yang berlebihan atau tidak beralasan, karena kadangkala anak-anak kurang memiliki nalar untuk membuat penilaian semacam.itu. Dengan menggunakan definisi ini, sekitar 10 hingga 15 persen anak-anak dan remaja menderita gangguan anxietas, menjadikannya Sebagai gangguan yang paling umum terjadi di masa kanak-kanak (Cohen dkk., 1993). Walaupun sebagian besar ketakutan pada masa kanak-kanak yang tidak realistik terhapus dengan berjalannya waktu, namun sebagian besar orang dewasa yang mengalami kecemasan dapat ditelusuri masalahnya hingga ke masa kanak-kanak.

Dengan demikian, keseriusan beberapa masalah kecemasan pada masa kanak-kanak tidak boleh diremehkan. Mereka tidak hanya menderita, seperti halnya orang dewasa, karena ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh perasaan cemas—secara sederhana, sungguh tidak nyaman untuk merasa sangat cemas—namun mereka dapat kehilangan kemampuan untuk menguasai tugas-tugas perkembangan pada berbagai tahap pada masa perkembangan mereka. Secara spesifik, seorang anak yang sangat pemalu dan yang sangat tidak mampu berinteraksi dengan teman sebaya tidak mungkin belajar bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain. Kelemahan perilaku mi akan menetap seiring dengan pertumbuhan anak menjadi remaja dan akan menjadi dasar dan” retardasi sosial.” Apakah si remaja akan mulai bekerja setelah menyelesaikan SMU atau meneruskan ke perguruan tinggi, hubungannya dengan orang lain kemungkmnan tidak akan menyenangkan. Kemungkinan akibatnya adalah ketakutan terburuk— orang-orang tidak akan menyukaiku dan menolakku— akan benar-benar dilandasi realitas karena kecanggungan orang tersebut, bahkan perilaku yang menjengkelkan pada orang lain menyebabkan penolakan dan penghindaran terhadap dirinya, dan memperkuat ketakutannya yang terbesar. Sebagaimana disebutkan dalam pembahasan mengenai fobia sosial, orang-orang yang mengalami kecemasan sosial yang tinggi pada masa kanak-kanaknya cenderung mengalami kecemasan sosial yang sangat merusak pada masa dewasa dan lebih sulit untuk ditangani.

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Advertisements

Penanganan Enuresis ( gangguan eliminasi )

Penanganan rumahan untuk mengompol telah melebar dan sekadar membatasi asupan cairan hingga menidurkan anak-anak di atas bola-bola golf atau menggantungkan bukti kesalahan—seprei basah—di jendela (Houts, 1991). Sebagian besar strategi semacam itu tidak efektif. Sama dengan itu, rnenunggu hingga si anak dengan sendirinya tidak lagi mengalami masalah tersebutjuga bukan tindakan yang memuaskan. Hanya sekitar 15 persen anak-anak enuretik berusia antara 5 hingga 19 tahun yang menunjukkan kesembuhan spontan dalarn waktu satu tahun (Forsythe & Redmond, 1974).

Dua macam penanganan yang paling banyak digunakan yang dirujuk oleh profesional adalah pemberian obat atau sistem alarm urin. Penanganan yang disebutkan terakhir pertarna kali muncul pada tahun 1938, ketika Mowrer dan Mowrer memperkenalkan lonceng dan bantalan. Selama bertahun-tahun penanganan mi telah terbukti sangat berhasil mengurangi atau menghentikan mengompol. Diperkirakan 75 persen anak-anak enuretik mampu tidak mengompol sepanjang malam karena bantuani alat yang sangat sederhana ini.

Sebuah lonceng dan sebuah baterai tersambung dengan kabel ke sebuah bantalan yang terdiri dan dua lembar kertas metalik, lembar di bagman atas berlubanglubang, dan di antara kedua lembaran tersebut terdapat selapis kain penyenap (Gambar 15 a). Bantalan tensebut dimasukkan ke dalam sarung bantal dan diletakkan di bawah tubuh si anak ketika tidur. Ketika tetesan pertama urine, yang berfungsi sebagal elektrolit, membasahi kain, sirkuit elektris akan tersambung di antara kedua lembar kertas. Tersambungnya sirkuit tersebut akan membunyikan lonceng atau alarm, yang segera membangunkan si anak atau tidak lama setelah mulai mengompol. Si anak umumnya kemudian berhenti berkemih, mematikan alat tersebut, dan pergi ke kamar mandi.

Mowrer dan Mowrer (1938) menganggap lonceng dan bantalan tersebut sebagai prosedur pengondisian kiasik di mana suatu stimulus tak terkondisi, yaitu lonceng, menyebabkan si anak terjaga, yang merupakan respons tak terkondisi. Lonceng tersebut dipasangkan dengan sensasi penuhnya kandung kemih sehingga sensasi tersebut akhirnya menjadi stimulus terkondisi yang menghasilkan respons terkondisi dalam bentuk si anak terjaga sebelum lonceng berbunyi. Ahli yang lain mempertanyakan teori pengondisian klasik, dan berpendapat, dalam istilah pengondisian operant, bahwa lonceng tersebut, yang membuat si anak terbangun, berfungsi sebagai hukuman sehingga mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki, yaitu mengompol (Walker, Milling, & Bonner, 1988). Dalam praktiknya lonceng tersebut biasanya juga membangunkan orang tua si anak; reaksi mereka dapat berfungsi sebagai insentif tambahan bagi si anak untuk tidak mengompol.

Metode lain yang menggunakan pendekatan pengondisian operant lanpa bantuan alarm urin tidak seberhasil metode dengan alarm tersebut (Houts, 2000; Houts, Berman, & Abramson, 1994). Di sisi lain, keberhasilan yang lebih besar dapat dicapai dengan memberi tambahan pada prosedur alarm urine dasar, seperti minum dalamjumlah yang lebih banyak selama beberapa malam berturut-turut sebelum waktu tidur (agar si anak terbiasa menahan cairan di kandung kemih tanpa mengompol) dan memastikan bahwa si anak terbangun dan mengganti seprei setiap kali alarm berbunyi (untuk menambah konsekuensi negatif mengompol) (Barclay & Houts, 1995; Mellon & Houts, 1998). Alarm urine yang terbaru dipakai di tubuh dan lebih andal dibanding bantalan ash yang diletakkan di kasur.

Pendekatan yang lain adalah penanganan farmakologis. Sekitar sepertiga pasien enuretik yang berupaya mendapatkan bantuan profesional diberi resep obat, seperti obat antidepresan imipramin (Tofranil) dan, baru-baru mi, desmopresin, yang meningkatkan penyerapan air dalam gmnjal. Pemberian obat semacam itu memberikan hasil dengan cara mengubah reaktivitas otot yang digunakan dalam berkemih (imiprammn) atau dengan mengonsentrasikan urine dalam kandung kemih (desmopresin). Meskipun efek positif biasanya segera terlihat, dalam sebagian besar kasus si anak mengalami kekambuhan segera setelah pemberian obat dihentikan (Houts, 1991), dan efek samping negatif imipramin (masalah tidur, kelelahan, sakit perut) dapat menjadi masalah.

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Penyebab Enuresis ( gangguan eliminasi )

Sebuah temuan konsisten mengenai enuresis menyatakan bahwa kemungkinan seorang anak enuretik memiliki kerabat tingkat pertama yang juga mengompol sangat tinggi, mendekati 75 persen (Bakwin, 1973). Sebuah studi baru-baru mi di Denmark untuk pertama kalinya menunjukkan keterkaitan genetik langsung dalam mengompol di malañi harm; suatu bagian kromosom 13 tampaknya mengandung gen bagi enuresis nokturnal (Eiberg, Berendt, & Mohr, 1995).

Sebanyak 10 persen dan seluruh kasus enuresis disebabkan oleh kondisi medis murni, seperti infeksi saluran unin, penyakit ginjal kronis, tumor, diabetes, dan kejang (Kolvin, McKeith, & Meadows, 1973; Stansfield, 1973). Karena banyaknya insiden penyebab fisiologis enuresis, sebagian besar profesional merujuk pasien enuretik ke dokter sebelum memberikan penanganan psikologis.

Pengendalian kandung kemih, yaitu penghambatan suatu refleks alami hingga berkemih dengan sengaja dapat dilakukan, merupakan keterampilan yang sangat kompleks. Bukti-bukti medis mengenai aktivitas otototot panggul bawah mendukung pemikiran bahwa anak-anak yang mengompol tidak dapat melakukan kontraksi spontan pada otot-otot tersebut di malam hari (Norgaard, 1989a, 1989b).

Beberapa teori psikologis menganggap enuresis sebagai suatu simtorn gangguan psikologis yang lebih umum, seperti kecernasan. Meskipun demikian, banyak peneliti berpendapat bahwa masalah seperti kemarahan dan kecemasan merupakan reaksi atas rasa malu dan rasa bersalah karena mengompol, bukan sebagai penyebab enuresis. Para teoris pembelajaran berpendapat bahwa anak-anak mengompol karena mereka tidak belajar untuk terbangun di malam han sebagai respons yang dikondisikan atas penuhnya kandung kemih atau untuk menghambat relaksasi otot lingkar yang mengendalikan urinasi (Walker, 1995).

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Pengertian Enuresis ( gangguan eliminasi )

Secara luas diketahui bahwa bayi tidak dapat mengendalikan kandung kemih atau saluran pembuangan. Seiring bertambahnya usia maka tidak dapat dihindari untuk mulai melakukan latihan buang air di toilet. Beberapa anak belajar menggunakan toilet pada usia 18 bulan, yang lainpada usia 30 bulan, dan sebagainya. Pada usia berapanormalnya seorang anak sudah harus mampu mengeridalikan kandung kemihnya? Jawabannya, ditentukan oleh norma-norma budaya dan statistik, agak tidak pasti.

DSM-lV-TR dan berbagai sis tern klasifikasi lainnya membedakan anak-anak yang mengompol ketika tidur—disebut enuresis nokturnal, anak-anak yang mengompol ketika bangun—disebut enuresis diurnal, dan anak-anak yang mengompol di siang dan malam hari. Pengendalian di slang han dikuasai Iebih dahulu karena pengendalian kandung kemih jauh lebih mudah saat seorang dalam keadaan tenjaga. Bila seorang anak tentinggal dan anak-anak seusianya dalam pengendalian kandung kemih, biasanya hal itu terkait pengendalian pada jam-jam tidur di malam han. DSM-IV-TR memperkirakan bahwa pada usia 5 tahun, 7 persen anak lakilaki dan 3 persen anak perempuan masih mengompol; pada usia 10 tahun, 3 persen anak laki-laki dan 2 persen anak perempuan; dan pada usia 18 tahun, 1 persen remaja laki-laki dan kurang dan 1 persen remaja perernpuan. Di Amerika Serikat diagnosis enuresis nokturnal tidak ditegakkan, menurut DSM-IV-TR, hingga si anak berusia 5 tahun.

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Penanganan Ketakutan dan Fobia Masa kanak kanak ( gangguan kecemasan )

Bagaimana mengatasi ketakutan anak-anak? Banyak yang terhapus dengan sendirinya sejalan dengan waktu dan kedewasaan. Pada bagian terbesar, penanganan terhadap ketakutan semacam itu sama dengan yang diberikan pada orang dewasa, dengan perubahan yang sesuai untuk mengakomodasi kemampuan dan situasi yang berbeda pada anak-anak.

Mungkin cara yang paling sering digunakan oleh jutaan orang tua untuk membantu anak-anak mengatasi ketakutannya adalah memaparkan mereka secara bertahap dengan objek yang ditakuti, sering kali dibarengi dengan tindakan yang terus menerus untuk menghambat kecemasan mereka. Jika seorang anak perempuan takut pada orang asing, orang tua menggandeng tangannya dan berjalan pelan mendekati orang baru tersebut. Mary Cover Jones (lihat him. 64-65) adalah psikolog pertama yang menjelaskan sepenggal nasihat orang tua mi sebagai suatu prosedur countercondi-tioning.

Para terapis kontemporer umumnya setuju bahwa pemaparan merupakan cara yang paling efektif untuk menghapuskan ketakutan dan penghindaran yang tidak beralasan. Modeling juga terbukti efektif, baik dalam berbagai studi laboratorium (a.l., Bandura, Grusec, & Menlove, 1967) maupun dalam penanganan klinis yang tidak terhitung banyaknya (Barrios & O’Dell, 1989). Sebagai contoh, terapis dapat meminta anak lain, seorang anak yang kemungkinan dapat ditiru oleh anak yang mengalami ketakutan, untuk menunjukkan perilaku tanpa takut. Dalam suatu studi inovatif anakanak ditangani dengan cara menonton film yang menampilkan anak-anak lain yang mengisolasi din bergabung secara bertahap dan akhirnya menikmati permainan dengan teman-teman sebayanya (O’Connor, 1969). Kelompok peneliti lain memasangkan para sukarelawan mahasiswa dengan anak-anak yang mengisolasi din secara sosial di taman bermain selama waktu istirahat (Allen dkk., 1976). Tujuannya adalah membantu memulai permainan kelompok yang akan melibatkan anak-anak yang menjadi sasaran dan memberikan umpan balik langsung pada si anak entang perilaku mana yang mendorong atau menghambat interaksi positif dengan anak-anak lain. Pada akhir program yang berlangsung selama enam bulan tersebut para sukarelawan berdiri di tepi sambil mengamati anak-anak tersebut bermain dengan teman-teman sebayanya.

Memberikan hadiah karena bergerak lebih dekat pada objek atau situasi yang ditakutijuga dapat menjadi pendorong bagi anak yang mengalami ketakutan. Baik modeling maupun terapi operant mencakup pemaparan terhadap seSuatu yang ditakuti. Bila ketakutan dan penghindaran seorang anak yang menderita fobia sosial sangat besar dan berlangsung lama, mungkmn diperlukan desensitisasi melalui pemaparan langsung dan bertahap ditambah pembentukan operant.

Dalam satu kasus yang telah disebutkan sebelumnya (Lazarus, Davison, & Polefka, 1965), terapis mengawali dengan berjalan ke sekolah bersama Paul yang berusia sembilan tahun, sepanjang perjalanan menenangkannya, dan secara, umum berusaha membuatnya merasa lebih baik seiring dengan semakin mendekati bangunan sekolah yang memicu kecemasan. Si anak kemudian semakin sering dipaparkan dengan sekolah dengan kontak yang semakin berkurang dengan terapis. Pada beberapa han pertama Paul awalnya memasuki halaman sekolah dan kembali pulang ke rumah; berikutnya, dia memasuki ruang kelas yang kosong setelah jam sekolah berakhir; kemudian dia mengikuti latihan pembuka di pagi han dan setelah itu pulang. Berikutnya dia duduk di kursi dan menghabiskan waktu di sekolah, pada awalnya ditemani terapiS yang duduk di sebelahnya, kemudian terapis duduk di tempat yang tidak terlihat oleh pandangan, namun masih berada di dekatnya. Pada tahap terakhir, ketika kecemasan tampak telah berkurang, terapis memberikan penguatan pada Paul dalam bentuk janji untuk bermain gitar baginya pada malam hari, buku-buku komik, dan voucher- voucher yang nantinya dapat ditukar dengan sarung tangan bisbol.

Suatu fokus pada kemampuan kognitif anak juga dapat ditemukan dalam terapi bagi anak-anak yang mengalami ketakutan. Terapis perilaku kognitif menganalisis pikiran bias anak dan asumsinya yang merusak dalam upaya menghilangkan kecemasan yang tidak beralasan. Sebagai contoh, jika si anak menyimpulkan bahwa tidak ada orang yang peduli padanya karena tidak diundang ke sebuah pesta ulang tahun seorang teman sekelasnya, suàtu strategi yang didasari teori Beck akan mendorong pasien untuk mempertimbangkan berbagai alasan tidak diundangnya dia ke pesta tersebut yang tidak didasari pemikiran bahwa tidak ada seorang pun yang menyukamnya. Strategi yang lebih didasari oleh teori Ellis akan mendorong si anak untuk menolak pikiran bahwa harga dirinya sepenuhnya tergantung pada diundang atau tidaknya ia ke berbagai pesta. Harus diakui bahwa dua pendekatan tersebut, terutama pendekatan Ellis, penuh kesulitan, namun bukti-bukti yang muncul mengindikasikan bahwa strategi semacam itu dapat membantu banyak anak yang mengalami ketakutan dan penghindaran sosial (Kendall, Chu, Pimentel, & Choudbury, 2000).

Sebagaimana pada orang dewasa, beberapa situasi baru mungkin menjadi ancaman karena anak-anak kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapinya. Dengan demikian, ketakutan seorang anak pada air dapat sangat herlandaskan penilaian yang masuk akal akan bahaya yang terdapat di dalamnya karena ia tidak dapat berenang. Beberapa anak pemalu kurang memiliki keterampilan sosial ‘tertentu yang diperlukan dalam interaksi dengan teman sebaya. Keterampilan seperti bertanya (Ladd, 1981), memberikan pujian, dan mengawali percakapan dengan .teman sebaya (Michelson dkk., 1983) dapat diajarkan dalam kelompok kecil atau secara berpasangan, di mana interaksi tersebut direkam sehingga anak dan pelatih dapat mengamati dan mengubah perilaku baru.

Berbagai studi terhadap basil terapi menunjukkan bahwa terapi dengan waktu terbatas bagi fobia yang dialami anak-anak dapat sangat efektif (Ollendick & King, 1998). Sebagai contoh, Hampe dkk. (1973) menangani 67 anak-anak fobik selama delapan minggu, menggunakan terapi behavioral atau terapi berorientasi insight. Sebanyak 60 persen anak-anak yang ditangani terbebas dan fobia setelah menjalani delapan minggu terapi tersebut dan tidak mengalami kekambuhan atau masalah emosional lain selama dua tahun pengamatan setelahnya. Sebanyak 80 persen sampel (mereka yang telah disebutkan ditambah anak-anak lain yang rnenjalani terapi lebih lanjut di tempat lain) terbebas dan simtom setelah dua tahun, dengan hanya 7 persen yang tetap mengalami fobia berat. Para penulis menyinipulkan bahwa walaupun banyak fobia pada anak-anak sembuh dengan sendirinya tanpa intervensi, namun terapi sangat mempercepat kesembuhan. Hasil-hasil positif yang sama juga dituturkan oleh Kendall (1994) dan Barrett, Dadds, dan Rapee (1996) dalam berbagai terapi yang lebih bersifat kognitif dibanding sebelumnya, yang mencakup instruksi pada anak-anak untuk berbicara kepada din sendiri dengan cara yang meyakinkan din sendiri dan melibatkan orang tua dalam menghadiahi setiap upaya coping yang dilakukan anak-anak mereka (Kendall, Chu, Pimentel, & Choudhury, 2000). Namun, pemaparan pada situasi yang ditakuti tetap menjadi dasar terapi.

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Fobia Sosial ( gangguan kecemasan )

Dalam sebagian besar kelas terdapat minimal satu atau dua anak yang sangat pendiam dan pemalu. Sering kali anak-anak mi hanya akan bermain dengan anggota keluarga atau teman sebaya yang akrab, menghindari orang asing, baik muda maupun tua. Sifat pemalu tersebut dapat menghambat. mereka menguasai berbagai keterampilan dan berpartisipasi dalam beragam aktivitas yang disukai oleh sebagian besar anak-anak seusia mereka, karena mereka menghindari tamantaman bermain dan permainan yang dilakukan oleh anak-anak .di lingkungan tempat tinggal mereka. Walaupun beberapa anak yang pemalu hanya sekadar lambat dalam berpartisipasi, namun anak-anak yang menarik diri tidak pernah melakukannya, bahkan setelah bertemu orang-orang baru dalam waktu yang lebih lama. Anak-anak yang sangat pemalu dapat menolak sama sekalt untuk berbicara dalam lingkungan sosial yang asing; kondisi ini disebut mutisme selektif, Dalam ruangan yang penuh orang mereka akan menempel dan berbisik pada orang tuanya, bersembunyi di balik perabotan, berdiam di sudut, dan bahkan dapat melakukan tantrum. Di rumah mereka bertanya tanpa henti pada orang tuanya tentarig situasi yang membuat mereka khawatir. Anak-anak yang menarik dirt biasanya memuliki hubungan yang hangat dan memuaskan dengan para anggota keluarga dan teman-teman keluarga, dan mereka menunjukkan keinginan untuk disayangi dan diterima.

Karena seberapa parah sifat pemalu dan penarikan diri menjadi masalah bervariasi, hanya sedikit statistik reliabel yang dikumpulkan berkaitan dengaR frekuensi gangguan mi. Sebuah estimasi adalah 1 persen anakanak dan remaja dapat didiagnosis menderita fobia sosial (Kashani & Orvaschei, 1990); hal itu lebih merupakan masalah pada remaja yang merupakan usia di mana kekhawatiran tentang pendapat orang lain dapat menjadi akut.

Beberapa anak menunjukkan kecemasan yang sangat besar dalam situasi sosial tertentu, menunjukkan fobia sosial yang saina dengan yang dialami orang dewasa (lihat him. 185-186). Ketmka anak-anak tersebut diminta menulis catatan harian tentang berbagai peristiwa yang menyebabkan kecemasan, mereka menulis mengalami kecemasan tiga kali lebih sering dibandirig anak-anak dalam kelompok kontrol normal, dengan kekhawatiran pada berbagai aktivitas seperti membaca dengan keras di depan kelompok, menulis di papan tulis, dan melakukan sesuatu di depan orang lain. Bila dihadapkan pada situasi-situasi tersebut mereka menangis, menghindar, dan mengalami keluhan somatik seperti gemetar dan mual (Beidel, 1991).

Berbagai teori mengenai etiologi fobia sosial pada anak-anak secara umum sama dengan teori-teori fobia sosial pada orang dewasa. Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami gangguan anxietas melebih-lebihkan bahaya yang terkandung dalam banyak situasi dan merendahkan kemampuan mereka untuk menghadapinya (Boegels & Zigterman, 2000). Kecemasan yang diciptakan oieh kognisi tersebut kemudian niemengaruhi interaksi sosial, menyebabkan anak menghmndari berbagai situasi sosial sehingga tidak banyak berlatih keterampilan sosial. Pendapat lain adalah anak-anak yang menarik din tidak mengetahui bagaimana cara bergaul yang memfasiiitasi interaksi dengan teman-teman seusia mereka. Penemuan bahwa anak yang mengisolasi dirt melakukan lebih sedikit upaya untuk berteman dan kurang imajinatif dalam bermamn dapat mengmndikasikan defisiensi keterampilan sosial. Terakhir anak-anak yang mengisolasi dirt mungkin menjadi demikian karena pada masa lalu mereka menghabiskan sebagian besar waktunya bersama orang-orang dewasa; anakanak tersebut lebih bebas berinteraksi dengan orang dewasa dibanding dengan anak-anak lain (Scarlett,
1980).

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Fobia sekolah ( gangguan kecemasan )

Salah satu ketakutan pada masa kanak-kanak,fobia sekolah, kadangkala disebut penolakan untuk sekolah (school refusal), merniliki konsekuensi akademik dan sosial yang serius bagi si anak dan dapat sangat merusak. Ada dua tipe fobia sekolah yang telah teridentifikasi. Dalam tipe yang lebih umum, yang berkaitan dengan kecemasan berpisah (separation anciety), anakanak selalu merasa khawatir bahwa suatu bahaya akan menimpa orang tua alau din mereka ketika tidak bersama orang tua rnereka; bila berada di rumah, mereka selalu menguntit salah satu atau kedua orang tua mereka dan sering kali berupaya untuk tidur bersama.

Karena awal sekolah sering kali merupakan situasi pertama yang menyebabkan terpisahnya anakanak dan onang tuanya dalam waktu yang panjang dan sering, kecemasan berpisah sering kali merupakan sebab utama fobia sekolah. Satu studi menemukan bahwa 75 persen anak-anak yang menolak untuk sekolah yang disebabkan oleh kecemasan berpisah mempunyai ibu yang juga menolak untuk sekolah pada masa kanak-kanaknya (Last dan Strauss, 1990). Terdapat hipotesis bahwa penolakan anak-anak atau keengganan ekstrem untuk pergi ke sekolah berakar dan beberapa kesulitan dalam hubungan ibu-anak. Mungkin si ibu menceritakan kecemasannya sendiri untuk berpisah dan tanpa disengaja memperkuat ketergantungan dan penolakan anak.
Tipe kedua penolakan untuk sekolah berkaitan dengan fobia sekolah yang sesungguhnya—apakah ketakutan tersebut secara spesifik berkaitan dengan sekolah atau fobia sekolah yang lebih umum. Anakanak yang mengalami tipe fobia mi secara umum mulai nienolak pergi ke sekolah setelah bertambahnya usia mereka dan memiliki penghindaran terhadap sekolah yang lebih berat dan menetap. Ketakutan mereka kemungkinan lebih berkaitan dengan aspek-aspek spesifik iingkungan sekolah, seperti kekhawatiran terhadap kegagalan akademik atau ketidaknyamanan dengan teman-teman sebaya.

Para ahli sepakat bahwa jika tidak ditangani (atau jika tidak terhapus dengan sendirinya tanpa intervensi profesional), fobia sekolah pada masa kanak-kanak dapat memberikan konsekuensi negatif jangka panjang seiring dengan pertumbuhan anak menjadi remaja dan orang dewasa. Anak yang rnengalami fobia sekolah dapat tumbuh menjadi orang yang sangat tergantung dan penuh ketakutan.

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology