Penanganan Enuresis ( gangguan eliminasi )

Penanganan rumahan untuk mengompol telah melebar dan sekadar membatasi asupan cairan hingga menidurkan anak-anak di atas bola-bola golf atau menggantungkan bukti kesalahan—seprei basah—di jendela (Houts, 1991). Sebagian besar strategi semacam itu tidak efektif. Sama dengan itu, rnenunggu hingga si anak dengan sendirinya tidak lagi mengalami masalah tersebutjuga bukan tindakan yang memuaskan. Hanya sekitar 15 persen anak-anak enuretik berusia antara 5 hingga 19 tahun yang menunjukkan kesembuhan spontan dalarn waktu satu tahun (Forsythe & Redmond, 1974).

Dua macam penanganan yang paling banyak digunakan yang dirujuk oleh profesional adalah pemberian obat atau sistem alarm urin. Penanganan yang disebutkan terakhir pertarna kali muncul pada tahun 1938, ketika Mowrer dan Mowrer memperkenalkan lonceng dan bantalan. Selama bertahun-tahun penanganan mi telah terbukti sangat berhasil mengurangi atau menghentikan mengompol. Diperkirakan 75 persen anak-anak enuretik mampu tidak mengompol sepanjang malam karena bantuani alat yang sangat sederhana ini.

Sebuah lonceng dan sebuah baterai tersambung dengan kabel ke sebuah bantalan yang terdiri dan dua lembar kertas metalik, lembar di bagman atas berlubanglubang, dan di antara kedua lembaran tersebut terdapat selapis kain penyenap (Gambar 15 a). Bantalan tensebut dimasukkan ke dalam sarung bantal dan diletakkan di bawah tubuh si anak ketika tidur. Ketika tetesan pertama urine, yang berfungsi sebagal elektrolit, membasahi kain, sirkuit elektris akan tersambung di antara kedua lembar kertas. Tersambungnya sirkuit tersebut akan membunyikan lonceng atau alarm, yang segera membangunkan si anak atau tidak lama setelah mulai mengompol. Si anak umumnya kemudian berhenti berkemih, mematikan alat tersebut, dan pergi ke kamar mandi.

Mowrer dan Mowrer (1938) menganggap lonceng dan bantalan tersebut sebagai prosedur pengondisian kiasik di mana suatu stimulus tak terkondisi, yaitu lonceng, menyebabkan si anak terjaga, yang merupakan respons tak terkondisi. Lonceng tersebut dipasangkan dengan sensasi penuhnya kandung kemih sehingga sensasi tersebut akhirnya menjadi stimulus terkondisi yang menghasilkan respons terkondisi dalam bentuk si anak terjaga sebelum lonceng berbunyi. Ahli yang lain mempertanyakan teori pengondisian klasik, dan berpendapat, dalam istilah pengondisian operant, bahwa lonceng tersebut, yang membuat si anak terbangun, berfungsi sebagai hukuman sehingga mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki, yaitu mengompol (Walker, Milling, & Bonner, 1988). Dalam praktiknya lonceng tersebut biasanya juga membangunkan orang tua si anak; reaksi mereka dapat berfungsi sebagai insentif tambahan bagi si anak untuk tidak mengompol.

Metode lain yang menggunakan pendekatan pengondisian operant lanpa bantuan alarm urin tidak seberhasil metode dengan alarm tersebut (Houts, 2000; Houts, Berman, & Abramson, 1994). Di sisi lain, keberhasilan yang lebih besar dapat dicapai dengan memberi tambahan pada prosedur alarm urine dasar, seperti minum dalamjumlah yang lebih banyak selama beberapa malam berturut-turut sebelum waktu tidur (agar si anak terbiasa menahan cairan di kandung kemih tanpa mengompol) dan memastikan bahwa si anak terbangun dan mengganti seprei setiap kali alarm berbunyi (untuk menambah konsekuensi negatif mengompol) (Barclay & Houts, 1995; Mellon & Houts, 1998). Alarm urine yang terbaru dipakai di tubuh dan lebih andal dibanding bantalan ash yang diletakkan di kasur.

Pendekatan yang lain adalah penanganan farmakologis. Sekitar sepertiga pasien enuretik yang berupaya mendapatkan bantuan profesional diberi resep obat, seperti obat antidepresan imipramin (Tofranil) dan, baru-baru mi, desmopresin, yang meningkatkan penyerapan air dalam gmnjal. Pemberian obat semacam itu memberikan hasil dengan cara mengubah reaktivitas otot yang digunakan dalam berkemih (imiprammn) atau dengan mengonsentrasikan urine dalam kandung kemih (desmopresin). Meskipun efek positif biasanya segera terlihat, dalam sebagian besar kasus si anak mengalami kekambuhan segera setelah pemberian obat dihentikan (Houts, 1991), dan efek samping negatif imipramin (masalah tidur, kelelahan, sakit perut) dapat menjadi masalah.

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: