Penanganan Ketakutan dan Fobia Masa kanak kanak ( gangguan kecemasan )

Bagaimana mengatasi ketakutan anak-anak? Banyak yang terhapus dengan sendirinya sejalan dengan waktu dan kedewasaan. Pada bagian terbesar, penanganan terhadap ketakutan semacam itu sama dengan yang diberikan pada orang dewasa, dengan perubahan yang sesuai untuk mengakomodasi kemampuan dan situasi yang berbeda pada anak-anak.

Mungkin cara yang paling sering digunakan oleh jutaan orang tua untuk membantu anak-anak mengatasi ketakutannya adalah memaparkan mereka secara bertahap dengan objek yang ditakuti, sering kali dibarengi dengan tindakan yang terus menerus untuk menghambat kecemasan mereka. Jika seorang anak perempuan takut pada orang asing, orang tua menggandeng tangannya dan berjalan pelan mendekati orang baru tersebut. Mary Cover Jones (lihat him. 64-65) adalah psikolog pertama yang menjelaskan sepenggal nasihat orang tua mi sebagai suatu prosedur countercondi-tioning.

Para terapis kontemporer umumnya setuju bahwa pemaparan merupakan cara yang paling efektif untuk menghapuskan ketakutan dan penghindaran yang tidak beralasan. Modeling juga terbukti efektif, baik dalam berbagai studi laboratorium (a.l., Bandura, Grusec, & Menlove, 1967) maupun dalam penanganan klinis yang tidak terhitung banyaknya (Barrios & O’Dell, 1989). Sebagai contoh, terapis dapat meminta anak lain, seorang anak yang kemungkinan dapat ditiru oleh anak yang mengalami ketakutan, untuk menunjukkan perilaku tanpa takut. Dalam suatu studi inovatif anakanak ditangani dengan cara menonton film yang menampilkan anak-anak lain yang mengisolasi din bergabung secara bertahap dan akhirnya menikmati permainan dengan teman-teman sebayanya (O’Connor, 1969). Kelompok peneliti lain memasangkan para sukarelawan mahasiswa dengan anak-anak yang mengisolasi din secara sosial di taman bermain selama waktu istirahat (Allen dkk., 1976). Tujuannya adalah membantu memulai permainan kelompok yang akan melibatkan anak-anak yang menjadi sasaran dan memberikan umpan balik langsung pada si anak entang perilaku mana yang mendorong atau menghambat interaksi positif dengan anak-anak lain. Pada akhir program yang berlangsung selama enam bulan tersebut para sukarelawan berdiri di tepi sambil mengamati anak-anak tersebut bermain dengan teman-teman sebayanya.

Memberikan hadiah karena bergerak lebih dekat pada objek atau situasi yang ditakutijuga dapat menjadi pendorong bagi anak yang mengalami ketakutan. Baik modeling maupun terapi operant mencakup pemaparan terhadap seSuatu yang ditakuti. Bila ketakutan dan penghindaran seorang anak yang menderita fobia sosial sangat besar dan berlangsung lama, mungkmn diperlukan desensitisasi melalui pemaparan langsung dan bertahap ditambah pembentukan operant.

Dalam satu kasus yang telah disebutkan sebelumnya (Lazarus, Davison, & Polefka, 1965), terapis mengawali dengan berjalan ke sekolah bersama Paul yang berusia sembilan tahun, sepanjang perjalanan menenangkannya, dan secara, umum berusaha membuatnya merasa lebih baik seiring dengan semakin mendekati bangunan sekolah yang memicu kecemasan. Si anak kemudian semakin sering dipaparkan dengan sekolah dengan kontak yang semakin berkurang dengan terapis. Pada beberapa han pertama Paul awalnya memasuki halaman sekolah dan kembali pulang ke rumah; berikutnya, dia memasuki ruang kelas yang kosong setelah jam sekolah berakhir; kemudian dia mengikuti latihan pembuka di pagi han dan setelah itu pulang. Berikutnya dia duduk di kursi dan menghabiskan waktu di sekolah, pada awalnya ditemani terapiS yang duduk di sebelahnya, kemudian terapis duduk di tempat yang tidak terlihat oleh pandangan, namun masih berada di dekatnya. Pada tahap terakhir, ketika kecemasan tampak telah berkurang, terapis memberikan penguatan pada Paul dalam bentuk janji untuk bermain gitar baginya pada malam hari, buku-buku komik, dan voucher- voucher yang nantinya dapat ditukar dengan sarung tangan bisbol.

Suatu fokus pada kemampuan kognitif anak juga dapat ditemukan dalam terapi bagi anak-anak yang mengalami ketakutan. Terapis perilaku kognitif menganalisis pikiran bias anak dan asumsinya yang merusak dalam upaya menghilangkan kecemasan yang tidak beralasan. Sebagai contoh, jika si anak menyimpulkan bahwa tidak ada orang yang peduli padanya karena tidak diundang ke sebuah pesta ulang tahun seorang teman sekelasnya, suàtu strategi yang didasari teori Beck akan mendorong pasien untuk mempertimbangkan berbagai alasan tidak diundangnya dia ke pesta tersebut yang tidak didasari pemikiran bahwa tidak ada seorang pun yang menyukamnya. Strategi yang lebih didasari oleh teori Ellis akan mendorong si anak untuk menolak pikiran bahwa harga dirinya sepenuhnya tergantung pada diundang atau tidaknya ia ke berbagai pesta. Harus diakui bahwa dua pendekatan tersebut, terutama pendekatan Ellis, penuh kesulitan, namun bukti-bukti yang muncul mengindikasikan bahwa strategi semacam itu dapat membantu banyak anak yang mengalami ketakutan dan penghindaran sosial (Kendall, Chu, Pimentel, & Choudbury, 2000).

Sebagaimana pada orang dewasa, beberapa situasi baru mungkin menjadi ancaman karena anak-anak kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapinya. Dengan demikian, ketakutan seorang anak pada air dapat sangat herlandaskan penilaian yang masuk akal akan bahaya yang terdapat di dalamnya karena ia tidak dapat berenang. Beberapa anak pemalu kurang memiliki keterampilan sosial ‘tertentu yang diperlukan dalam interaksi dengan teman sebaya. Keterampilan seperti bertanya (Ladd, 1981), memberikan pujian, dan mengawali percakapan dengan .teman sebaya (Michelson dkk., 1983) dapat diajarkan dalam kelompok kecil atau secara berpasangan, di mana interaksi tersebut direkam sehingga anak dan pelatih dapat mengamati dan mengubah perilaku baru.

Berbagai studi terhadap basil terapi menunjukkan bahwa terapi dengan waktu terbatas bagi fobia yang dialami anak-anak dapat sangat efektif (Ollendick & King, 1998). Sebagai contoh, Hampe dkk. (1973) menangani 67 anak-anak fobik selama delapan minggu, menggunakan terapi behavioral atau terapi berorientasi insight. Sebanyak 60 persen anak-anak yang ditangani terbebas dan fobia setelah menjalani delapan minggu terapi tersebut dan tidak mengalami kekambuhan atau masalah emosional lain selama dua tahun pengamatan setelahnya. Sebanyak 80 persen sampel (mereka yang telah disebutkan ditambah anak-anak lain yang rnenjalani terapi lebih lanjut di tempat lain) terbebas dan simtom setelah dua tahun, dengan hanya 7 persen yang tetap mengalami fobia berat. Para penulis menyinipulkan bahwa walaupun banyak fobia pada anak-anak sembuh dengan sendirinya tanpa intervensi, namun terapi sangat mempercepat kesembuhan. Hasil-hasil positif yang sama juga dituturkan oleh Kendall (1994) dan Barrett, Dadds, dan Rapee (1996) dalam berbagai terapi yang lebih bersifat kognitif dibanding sebelumnya, yang mencakup instruksi pada anak-anak untuk berbicara kepada din sendiri dengan cara yang meyakinkan din sendiri dan melibatkan orang tua dalam menghadiahi setiap upaya coping yang dilakukan anak-anak mereka (Kendall, Chu, Pimentel, & Choudhury, 2000). Namun, pemaparan pada situasi yang ditakuti tetap menjadi dasar terapi.

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

3 responses to this post.

  1. wadu ingat masa kecilku………….

    Reply

    • Posted by dessy rabiah paradhita on February 24, 2011 at 5:29 pm

      hahahahah.. memang kenapa dengan masa kecil kamu??
      pernah bermasalah juga dalam dunia sekolah??/

      Reply

  2. Posted by wahidahmurodi on February 10, 2011 at 6:47 am

    anakku juga loh…sekarang harus pindah sekolah karena mengikuti ayahnya yang pindah tugas.

    mogok sekolah hanya karena minta saya menunggui dan menemani sampe pulang disekolahnya yg baru.apa karena fobia sosial itu yaa…setiap lingkungan baru yang akan ia masuki maka penuh dengan kecemasan dan biasanya dengan jalan pemaparan seperti diatas dan ia sudah nyaman waahh malahan kita nanti yg terheran-heran sendiri melihatnya begitu gaul pisan…..

    tapi masalahnya sekarang dia kan udah kelas lima, masak masih minta ditungguin dikelas..??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: