ketakutan anak akan perpisahan ( gangguan kecemasan )

Gangguan kecemasan akan perpisahan (separation anxiety disorder) didiagnosis jika kecemasan akan perpisahan tersebut persisten dan berlebihan atau tidak sesuai dengan tingkatperkembangan anak. Jadi, anak usia 3 tahun seharusnya dapat mengikuti kegiatan prasekolah tampa merasa mual dan muntah karena cemas. Anak usia 6 tahun seharusnya dapat mengikuti sekolah dasar tanpa rasa ketakutan yang terus- menerus bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya atau orang tuanya. Anak- anak dengan gangguan ini cenderung terikat pada orang tua dan mengikuti ke mana pun mereka berada di lingkungan rumahnya. Anak- anak itu dapat mengemukakan kecemasan tentang kematian dan memaksa seseorang untuk menemani mereka saat mereka tidur. Ciri lain dari gangguan ini mencakup mimpi buruk, sakit perut, mual dan muntah ketika mengantisipasi perpisahan (seperti pada hari- hari sekolah, memohon agar orang tua tidak pergi bekerja, atau temper trantum bila orang tua kan pergi. Anak- anak ini dapat menolak pergi ke sekolah karena takut bahwa sesuatu akan terjadi pada orang tua ketika mereka pergi. Gangguan ini terjadi pada sekitar 4 % anak- anak dan remaja awal dan terjadi lebih sering, menurut studi berbasis komunitas, pada perempuan (APA, 2000). Gangguan ini dapat berlangsung sampai masa dewasa, menyebabkan perhatian yang berlebihan pada keselamatan anak- anak dan pasangan serta kesulitan menoleransi perpisahan apa pun dari mereka.

Pada tahun- tahun sebelumnya, gangguan kecemsan akan perpisahan biasanya disebut fobia sekolah. Namun gangguan ini juga dapat terjadi pada usia prasekolah. Saat ini sebagian besar kasus di mana anak- anak menolak untuk pergi sekolah dipandang sebagai

Pada tahun- tahun sebelumnya, gangguan kecemsan akan perpisahan biasanya disebut fobia sekolah. Namun gangguan ini juga dapat terjadi pada usia prasekolah. Saat ini sebagian besar kasus di mana anak- anak menolak untuk pergi sekolah dipandang sebagai bentuk dari kecemasan akan perpisahan. Akan tetapi pada masa remaja, penolakan untuk hadir di sekolah sering kali dihubungkan dengan masalah akademik dan sosial, sehingga label gangguan kecemasan akan perpisahan tidak dapat digunakan.
Perkembangan dari gangguan ini sering muncul setelah adanya kejadian hidup yang menekan seperti kondisi sakit, kematian anggota keluarga atau binatang kesayangan, atau perubahan sekolah atau rumah.

jadi Merupakan hal normal bila anak- anak menunjukkan kecemasan bila mereka dipisahkan dari pengasuh mereka. Mary Ainsworth (1989), yang meneliti tentang perkembangan perilaku ke;elatan, mencatat bahwa kecemasan akan perpisahan adalah ciri normal dari hubungan anak- pengasuh dan dimulai sejak tahun pertama. Perasaan aman yang dihasilkan oleh ikatan kelekatan, tampaknya mendorong anak- anak untuk mengeksplorasi lingkungan mereka dan secara progresif menjadi mandiri dari pengasuhnya (Bowlby, 1988).

Sumber refrensi :
Greene B., Rathus. A, & Nevid S. 2005. Psikologi Abnormal Jilid 2. PT. Gelora Aksara Pratama: ERLANGGA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: