Archive for April, 2010

GANGGUAN KETRAMPILAN MOTORIK DISABILITAS

Pada gangguan ketrampilan motorik , yang juga disebut sebagai gangguan koordinasi perkembangan , seseorang anak mengalami hendaaya parah dalam perkembangan koordinasi motorik yang tidak disebabkan oleh retardasi mental atau gangguan fisik lain yang telah dikenal seperti serebal palsi. Anak tersebut mangalami kesulitan mengikat tali sepatunya dan mengancingkan baju dan bila berusia lebih besar, membuat suatu bangun , bermain bola dan bergambar atau menulis . diagnosis hanya ditegakan bila hendaya tersebut sangat terhambat prestasi akademik atau berbagai aktivitas kehidupan sehari hari.

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006.XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi :hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Advertisements

PENGERTIAN DISABILITAS BELAJAR

Di sabilitas belajar merujuk pada kondisi tidak memadai perkembangan dalam suatu bidang akademik tertentu, bahasa, berbicara, atau ketrampilan motorik yang tidak di sebabkan oleh retardasi mental, autisme, gangguan fisik yang dapat terlihat , atau kurang nya kesempatan pendidikan. Anak anak yang mengalami gangguan ini biasa nya memiliki intelegensi rta rata atau diatas rata rata, namun mengalami kesulitan mempelajari beberap ketrampilan tertentu (a.l., aritmetika atau membaca) sehinnga kemajuan mereka di sekolah jadi terhambat.
Istilah disabilitas belajar tidak digunakan dalam DSM-IV-TR, namun digunakan oleh sebagian besar frofesional kesehatan untuk menggabungkan tiga gangguan yang tercantum dalam DSM : gangguan perkembangan belajar , gangguan berkomunikasi , dan ketrampilan motorik masing masing gangguan tersebut dapat ditegakan pada seorang anak yang tidak dapat berkembang sesuai dengan tingkat intlektualitas nya dalam bidang akademik spesifik, bahasa, atau ketrampilan motorik. Disabilitas belajar sering kali teridentifikasi dan ditangani dalam sisitem sekolah dan bukan di berbagai klinik kesehatan mental.meskipun diyakini jauh lebih umum terjadi pada laki laki dibandingkan perempuan, bukti bukti yang di peroleh dari berbagai study berbagai populasi ( yang menghindari masalah bias bias rujukan ) mengindentifikasikan bahwa gangguan tersebut hanya sedikit lebih banyak terjadi pada laki laki ( a.l ., shaywits dkk., 1990 ). Meskipun para individu dengan disabilitas belajar biasa nya dapat menemukan cara untuk mengatasi masalah mereka, bagaimanapun hal itu mempengaruhi perkembangan akademik dan sosial mereka , dan terkadang cukup parah.

Daftar Pustaka : Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006.XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi :hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

PENANGANAN DISLEKSIA

1. Metode multi-sensory
Anak akan diajarkan mengeja, tidak hanya berdasarkan apa yang didengarnya dan kemudian diucapkannya kembali, tapi juga memanfaatkan kemampuan memori visual serta taktil (sentuhan) dengan cara menuliskan huruf-huruf tersebut di udara dan di lantai, membentuk huruf dari lilin (plastisin) atau dengan menulis besar-besar di lembaran kertas. Cara ini dilakukan untuk memungkinkan terjadinya asosiasi antara pendengaran, penglihatan, dan sentuhan sehingga mempermudah otak bekerja mengingat kembali huruf-huruf.
2. Membangun rasa percaya diri
Ajak anak mengevaluasi dan memahami dirinya sendiri, kelebihan dan kekurangan yang ada padanya, agar dia dapat melihat secara objektif dan tidak hanya terfokus pada kekurangannya sebagai anak dengan gangguan disleksia. Apalagi menurut penelitian, anak-anak ini cenderung mempunyai kelebihan dalam hal physical-coordination, kreativitas, dan kemampuan berempati pada orang lain.

SUMBER REFERENSI : Anonim. http://www.tabloid-n akita. Com/Khasanah/khasanah09457-03.htm. Marfuah Panji Astuti. Foto: Ferdi Dok. nikita. Narasumber: Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Hermawan Consulting . 7 April 2010. 20.30.

CIRI-CIRI DISLEKSIA

1. Bermasalah ketika harus memahami apa yang dibaca.
2. Sulit menyuarakan fone
m dan memadukannya menjadi sebuah kata.
3. Sulit mengeja secara benar. Bahkan bisa jadi anak akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan, walaupun kata tersebut berada di halaman buku yang sama.
4. Kesulitan mengurutkan huruf-huruf dalam kata. Misal, kata SAYA ejaannya adalah S¬A¬Y¬A.
5. Tidak dapat mengucapkan irama kata-kata secara benar dan proporsional.
6. Sulit mengeja kata/suku kata dengan benar. Bisa terjadi anak akan terbalik-balik membunyikan huruf, atau suku kata.
7. Terlambat perkembangan kemampuan bicara dibandingkan dengan anak-anak seusianya pada umumnya.
8. Terlambat dalam mempelajari alfabet, angka, hari, minggu, bulan, warna, bentuk dan informasi mendasar lainnya.
9. Terlihat kesulitan dalam menuliskan huruf ke dalam kesatuan kata secara benar.
10. Bingung menghadapi huruf yang mempunyai kemiripan: d-b, u-n, m-n .
11. Rancu terhadap huruf yang bunyinya mirip: v, f, th.
12. Sering menuliskan/mengucapkan kata terbalik-balik. Umpama, kata hal menjadi lah.
13. Membaca suatu kata dengan benar di satu halaman, tapi keliru di halaman lain.
14. Mengucapkan susunan kata secara terbalik-balik. Contoh, Kucing duduk di atas kursi diucapkan Kursi duduk di atas kucing.
15. Rancu terhadap kata-kata yang singkat, seperti ke, dari, dan, jadi.
16. Membaca dengan benar tapi tak mengerti apa yang dibacanya.

SUMBER REFERENSI : Anonim. http://www.tabloid-n akita. Com/Khasanah/khasanah09457-03.htm. Marfuah Panji Astuti. Foto: Ferdi Dok. nikita. Narasumber: Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Hermawan Consulting . 7 April 2010. 20.30.

PENYEBAB DISLEKSIA

1. Neurologis
Gangguan ini bukanlah suatu ketidakmampuan fisik, semisal kesulitan visual. Namun murni karena kelainan neurologis, yakni bagaimana otak mengolah dan memproses informasi yang sedang dibaca oleh anak secara tidak tepat, terutama otak bagian kiri depan yang berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. Selain itu, ada perkembangan yang tidak proporsional pada sistem magno-cellular, yang berhubungan dengan kemampuan melihat benda bergerak (moving images) yang menyebabkan ukurannya menjadi lebih kecil. Kondisi ini menyebabkan proses membaca jadi lebih sulit karena otak harus membaca dan memahami secara cepat huruf-huruf dan sejumlah kata yang berbeda yang terlihat secara bersamaan oleh mata ketika mata men-scanning kata dan kalimat.
2. Keturunan
Menurut penelitian, 80% penderita disleksia mempunyai anggota keluarga dengan kesulitan belajar (learning disabilities) dan 60% di antaranya kidal (left-handedness).
3. Gangguan pendengaran sejak dini
Jika kesulitan pendengaran terjadi sejak dini dan tak terdeteksi, maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang didengarnya dengan huruf atau kata yang dilihatnya.
4. Kombinasi
Kombinasi dari berbagai faktor di atas menjadikan kondisi anak dengan gangguan disleksia kian serius atau parah, hingga perlu penanganan menyeluruh dan kontinu.

SUMBER REFERENSI : Anonim. http://www.tabloidnakita. Com/Khasanah/khasanah09457-03.htm. Marfuah Panji Astuti. Foto: Ferdi Dok. nikita. Narasumber: Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Hermawan Consulting . 7 April 2010. 20.30.

PENGERTIAN DISLEKSIA

Disleksia atau reading disabilities adalah kelainan neurologis yang menyebabkan kemampuan membaca anak di bawah kemampuan yang semestinya, jika mempertimbangkan tingkat intelegensi, usia, dan pendidikannya. Adapun berbagai teori psikologi dimasa lalu memfokuskan pada kelemahan perseptual sebagai basis disleksia. Sebuah hipotesis populer menyatakan bahwa anak anak yang mengalami masalah membaca melihat huruf huruf dalam posisi sebalik nya atau dalam citra cermin, melihat nya sebagai huruf lain , contoh nya melihat huruf b sebagai huruf d . meskipun demikin , berbagai temuan yang lebih mutakhir tidak mendukung hipotesis ini ( wolf & melngailis , 1996 ) ; sebagian besar anak membaca huruf secara terbalik ketika pertama kali belajar membaca, namun para individu disleksia sekalipun sangat jarang melihat huruf terbalik setelah berusia 9 atau 10 tahun. Tidak ditemukan antara kesalahan membaca huruf pada usia 5 tahun. Sebagian besar penelitian mengenai disabilitas belajar terfokus pada disleksia mungkin karna disleksia merupakan gangguan yang paling terjadi dalam kelompok gangguan ini . meskipun berbagai study mengenai gangguan berhitung mulai dilakukan, literatur dalam bidang ini berkembang lebih lambat.

SUMBER REFERENSI : Anonim.http://www.tabloidakita. Com/Khasanah/khasanah09457-03.htm. Marfuah Panji Astuti. Foto: Ferdi Dok. nikita. Narasumber: Jacinta F. Rini, M.Psi, dari Hermawan Consulting . 7 April 2010. 20.30.

CARA PENANGGULANGAN DISKALKULIA

Diagnosa diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang berkompeten di bidangnya berdasarkan serangkaian tes dan observasi yang valid dan terpercaya. Bentuk terapi atau treatment yang akan diberikan pun harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan tingkat hambatan anak secara detail dan menyeluruh.
Bagaimanapun, kesulitan ini besar kemungkinan terkait dengan kesulitan dalam aspek-aspek lainnya, seperti disleksia. Perbedaan derajat hambatan akan membedakan tingkat treatment dan strategi yang diterapkan. Selain penanganan yang dilakukan ahli, orang tua pun disarankan melakukan beberapa latihan yang dapat mengurangi gangguan belajar, yaitu:
1. Cobalah memvisualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti, dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah-langkah
atau urutan dari proses keseluruhannya.
2. Bisa juga dengan menyuarakan konsep matematis yang sulit dimengerti dan minta si anak mendengarkan secara cermat. Biasanya anak diskalkulia tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara verbal.
3. Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekadar abstrak. Atau kalau perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya.
4. Tuangkan konsep-konsep matematis dalam praktek serta aktivitas sederhana sehari-hari. Misalnya, berapa sepatu yang harus dipakainya jika bepergian, berapa potong pakaian seragam sekolahnya dalam seminggu, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota keluarga yang ada, dan sebagainya.
5. Sering-seringlah mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah dengan cara menyanyikan angka-angka, atau cara lain yang mempermudah menampilkan ingatannya tentang angka.
6. Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan atau bahkan usaha yang dilakukan oleh anak.
7. Lakukan proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak mudah memahaminya.
8. Harus ada kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan.

SUMBER REFRENSI : Anonim. http://www.mail-archive.com/milis- nakita@news.gramedia- majalah.com/msg02650.html. Marfuah Panji Asusti. Ilustrator : Pugoeh. 5 April2010. 20.30

Anonim. http://www.tabloid- nakita.com/Panduan/panduan05233- 02.htm. 5 April 2010. 20.30